Logo
images

Usai Bertemu Gubernur Jatim, BKKBN Ingin Rebranding Lebih Millennials

SURABAYA (17/07/2019) - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo melakukan pertemuan dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Pertemuan itu dilakukan di Kantor Gubernur Jawa Timur, Surabaya, Rabu (17/7) sore.

Lantas apa yang dibahas dalam pertemuan tersebut ?

"Bu Khofifah itu kan dulu Kepala BKKBN, senior saya. Saya minta petunjuk, minta arahan apa-apa yang bisa saya kerjakan," kata Hasto usai melakukan pertemuan.

1. Total fertility rate di Jawa Timur bisa menjadi contoh nasional

Selain itu, lanjut Hasto, ia juga membahas mengenai permasalahan-permasalahan yang ada di Jawa Timur. Salah satunya, total fertility rate Jawa Timur yang bisa dijadikan contoh nasional.

Total fertility rate (angka kesuburan total) adalah istilah yang digunakan di bidang demografi untuk menggambarkan jumlah rata-rata anak yang akan terlahir dengan selamat, dari seorang wanita yang mengalami tingkat kesuburan spesifik serta dia akan selamat dari kelahiran sepanjang usia reproduktifnya.

"Tadi saya sampaikan kepada Bu Khofifah, bagaimana cara mempertahankan ini. Dan kami juga minta dukungan minta arahan agar 2,1 total fertility rate ini rata-rata 1 perempuan itu melahirkan 2,1. Ini bisa menjadi contoh di seluruh Indonesia dan bisa dipertahankan di Jawa Timur," ungkap Hasto.

2. Hasto minta bidan-bidan dikembalikan ke desa

Dalam pertemuan itu, mantan Bupati Kulon Progo tersebut juga menyampaikan pesan kepada Khofifah, perlunya bidan-bidan dikembalikan ke desa. Hal ini kata Hasto, guna mendukung pelayanan kesehatan.

"Minta dukungan Bu Khofifah agar bidan-bidan di Jawa Timur kembali ke desa. Dengan pelayanan kontrasepsi KB (Keluarga Berencana) ini dan sangat banyak hal yang bisa dikerjasamakan," jelasnya.

3. Hasto ingin BKKBN lebih dikenal kalangan Millennials

Lebih lanjut, mantan Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) itu mengatakan, pihaknya ingin me-rebranding BKKBN agar dapat dikenal oleh kalangan millennial.

"Saya targetkan waktu 6 bulan, BKKBN harus move on, harus dikenal oleh millennial, harus ada rebranding. Dan visinya diperbaiki kemudian lebih fokus pada hal yang sifatnya penting," kata Hasto.

Salah satu hal yang telah dilakukan pihaknya agar menarik perhatian millennial adalah dengan meremiskan Sekolah Siaga Kependudukan di SMAN 1, Kepanjen Kabupaten Malang, Jawa Timur pada Rabu (17/7) pagi.

"Ternyata, responsnya bagus. Ketika masalah kesehatan reproduksi itu kita ekspose itu bagus sekali. Ini bukan pendidikan seksual, beda lho pendidikan seks dan kesehatan reproduksi itu," ujarnya.

Ia pun mencontohkan, pendidikan kesehatan reproduksi adalah ketika perempuan yang hamil pada usia di bawah 20 tahun. Menurut Hasto, dalam segi biologis, perempuan di bawah usia itu belum cukup baik untuk melahirkan. Sebab, kepala bayi dan diameter panggul seorang perempuan ketika melahirkan, harus berukuran 10 sentimeter.

"Kalau usianya baru 18 tahun ternyata ini (tulang panggul) masih sempit. Ini contoh saja bahwa kalau usia terlalu dini," katanya

"Pendidikan seks itu disangkanya 'seks'. Bukan, hal-hal seperti itu lah supaya dia tidak tersesat. Makanya, itulah pentingnya BKKBN dikenal di kalangan millennial," sambungnya.

Sumber: https://www.idntimes.com/news/indonesia/axel-harianja/usai-bertemu-khofifah-bkkbn-ingin-rebranding-lebih-millennials/full