Logo
images

Sharing dengan Penyuluh KB dan ASN BKKBN Riau, Kepala BKKBN: Reformasi Birokrasi Reformasi Diri

Siaran Pers No. RILIS/119/B2/BKKBN/X/2019

 

 

Pekanbaru – Petugas lapangan adalah ujung tombak BKKBN, dalam sambutannya Kepala BKKBN berterimakasih dengan para penyuluh, karena program KB bisa berjalan dengan baik tidak bisa lepas kaitannya dari kerja keras para penyuluh, bidan dan petugas kesehatan dilapangan. “Tidak ada Kepala BKKBN program tetap bisa berjalan, tidak ada Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi program KB tetap bisa berjalan tapi kalau tidak ada penyuluh, program KB tidak akan  bisa berjalan, tidak ada bidan maka program tidak bisa berjalan” dalam kegiatan pertemuan dengan Penyuluh KB dan ASN BKKBN Perwakilan Riau (6/11). Penyuluh disarankan harus sering membaca, membaca buku dan membaca wajah, face language, agar bisa memahami keinginan dan mengetahui cara untuk membuat akseptor tertarik menggunakan alat kontrasepsi.

 

Mengenai reformasi birokrasi, Kepala BKKBN mengatakan bahwa “Untuk melakukan reformasi birokrasi yang pertama kita harus memulai dengan individu, kita mereformasi diri kita terlebih dahulu”. Ditambahkan “Secara statistik gangguan mental emosional naik sekarang menjadi di atas 7%, jadi penduduk Indonesia ini menurut RISKESDAS dari 100 penduduk, kira-kira ada 7 yang agak eror. Misalkan dikantor BKKBN Riau ini ada 42 pegawai pasti ada kurang lebih 5 orang yang eror, yang sering bolos, tidak masuk, kalau dikasih pekerjaan tidak bertanggung jawab, kalau menuntut sesuatu tidak rasional”.

 

Menuju reformasi birokrasi individunya harus lebih baik atau menjadi seorang personal master. Ada beberapa penyakit individu, yang pertama adalah the enemy is out there, apa-apa yang disalahkan orang lain, padahal kita harus lihat diri kita sendiri, kalau kita tetap kena penyakit the enemy is out there kita akan sulit melakukan reformasi ini. Yang Kedua penyakit kena i know-i know syndrom, karena sudah terlalu lama di satu bidang jadi merasa yang paling tahu, jadi sudah tidak bisa diberi tahu karena merasa paling tahu, tidah terima diberitahu orang lain. Yang ketiga megalonamia, merasa paling besar, dimana-mana menceritakan tentang dirinya yang paling hebat, anaknya paling begini, istrinya paling begitu, jadi selalu membesar-besarkan dirinya. Dan keempat adalah skeptomania, suka mengambil barang orang atau suka korupsi, walaupun hal yang kecil seperti snack sisa dibawa pulang dan lain sebagainya. “Jadi sifat-sifat begini harus dihilangkan untuk mencapai reformasi. Individu harus dibenahi, kita harus jadi pelayan yang baik, tanpa pamrih, jangan ada kepentingan atau conflict of interest terhadap dirinya”, ujar Kepala BKKBN.

 

 

BKKBN sedang melaksanakan rantai pasok, tetapi jangan ada yang punya kepentingan, kecuali kepentingan kita yaitu alat kontrasepsi bisa sampai ke pelosok-pelosok, tidak hanya send tapi haru deliver. Tugas kita mengurus dan melayani masyarakat dengan baik, biar diri kita Tuhan yang urus. Selain itu, Kepala BKKBN mengatakan bahwa "visi bersama juga sangatlah penting untuk mencapai reformasi birokrasi, zona integritas, wilayah bebas korupsi (WBK), wilayah birokrasi bersih dan melayani (WBBM). Visi bersama itu bukan visi yang tertulis saja, tapi memiliki keyakinan yang besar dan maju bersama-sama, team together everyone achieve more".

 

Terakhir dalam sambutannya Kepala BKKBN mengatakan bahwa “Kunci reformasi birokrasi itu menulis apa yang kita kerjakan dan mengerjakan apa yang tada dalam tulisan”. Tidak kalah penting reformasi birokrasi harus ada quick win, harus ada innovasi baru. (HMS)