Logo
images

Revolusi Kependudukan Menyambut Era Pasar Terbuka ASEAN

Oleh : Anindita Dyah Sekarpuri, MSR
Widyaiswara Balai Diklat KKB Bogor

PENDAHULUAN

Persaingan era global dan pasar terbuka ASEAN sudah hampir tiba di penghujung tahun 2015 , oleh karena itu sebagai prasyarat SDM yang berkualitas dan dapat mempunyai nilai saing maka penguasaan bahasa asing dan peningkatan ketrampilan kerja lainnya merupakan hal yang tidak bisa ditawar lagi. Adanya tantangan untuk dapat meningkatkan kemampuan kompetensi tersebut perlu disikapi dengan positif, namun seiring dengan adanya pembatasan anggaran pemerintah yang membuat perencanaan kegiatan peningkatan SDM menjadi lebih efektif dan efisien.

Di sisi lain, sejalan dengan isu bonus demografi di Indonesia, membuat banyak pihak yang menyatakan bahwa Indonesia saat ini sedang menikmati bonus demografi, yang dimulai sejak awal tahun 90-an. Kondisi ini merupakan dampak jangka panjang dari program KB yang mulai dilaksanakan secara nasional sejak tahun 70an. Tingginya tingkat kelahiran pada dekade 60an dan 70an menyebabkan meningkatnya jumlah kelompok usia muda (15 tahun ke atas) mulai kurun waktu 90-an. Di lain pihak, keberhasilan program KB yang mulai terasa pada dekade 80an menurunkan jumlah penduduk di bawah 15 tahun. Dinamika perubahan struktur umur ini yang berdampak pada menurunnya proporsi penduduk non produktif dan meningkatnya proporsi penduduk usia produktif.

Secara potensial, kondisi ini sangat baik untuk mendukung kemajuan bangsa. Penduduk usia produktif terutama kaum muda merupakan kelompok yang sangat energik dan kreatif. Indonesia sedang menikmati masa tersebut saat ini. Ditambah dengan potensi sumberdaya alam yang melimpah, kebijakan ekonomi yang prudent, besarnya proporsi penduduk usia produktif khususnya usia muda merupakan faktor kunci yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan saat ini.

REVOLUSI KEPENDUDUKAN DI ERA PASAR TERBUKA

Isu kependudukan menjadi permasalahan nasional yang mencakup kelahiran, kematian dan perpindahan penduduk. Kedinamisan kependudukan di Indonesia sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang akan menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan suatu negara. Sejak awal tahun 2000 sampai dengan saat ini, Indonesia terus menikmati pertumbuhan ekonomi yang menakjubkan namun Indonesia merupakan sedikit negara di dunia yang dapat melalui beberapa kali turbulence ekonomi secara global pada dekade ini. Diantara banyak faktor yang mendukung pertumbuhan ekonomi tersebut adalah besarnya konsumsi dalam negeri dan kreatifitas dan produktivitas penduduk usia muda tersebut. Sebagai
Berdasarkan perhitungan para demographer terhadap indikator dasar kependudukan (tingkat kelahiran dan kematian), bonus demografi akan dinikmati oleh Indonesia sampai dengan sekitar tahun 2030 dan setelah itu secara perlahan akan hilang oleh karena makin membesarnya proporsi penduduk lanjut usia (65 tahun ke atas). Bahkan pada kurun waktu 2020-2030, Indonesia akan menikmati apa yang disebut sebagai window of opportunity, dimana rasio ketergantungan sangat rendah (sekitar 44 persen). Pada kurun waktu tersebut jumlah penduduk di Indonesia berkisar antara 268 juta jiwa (2020) dan 293 juta jiwa (2030). Jumlah penduduk usia produktif pada kurun waktu yang sama adalah 198.5 juta dan 200.3 juta. Disebut sebagai window of opportunity karena kondisi tersebut baru berupa potensi yang aktualisasinya tergantung pada banyak faktor. Paling tidak ada empat faktor kunci yang untuk memaksimalkan window of opportunity tersebut demi kemajuan bangsa dan peningkatan kesejahteraan penduduk yaitu(1) SDM yang berkualitas, (2) mereka terserap dalam pasar kerja, (3) adanya tabungan pada tingkat rumah tangga, dan (4) perempuan dalam pasar kerja.

Untuk memanfaatkan window of opportunity maka kebijakan pengembangan SDM, sektor tenaga kerja, sektor keuangan, sektor riil dan pemberdayaan perempuan harus lebih dipertajam dan disinkronkan satu dengan yang lain dengan memperhatikan dinamika demografi dan sosial ekonomi dari kelompok penduduk usia produktif tersebut. Disamping itu juga perlu diperhatikan kondisi global karena bagaimanapun ke depan keterkaitan antar negara dalam bidang sosial dan ekonomi akan semakin erat.
Persaingan antar SDM di era pasar terbuka nantinya perlu adanya penyiapan SDM kependudukan semenjak dari dalam kandungan ibu dan nantinya dengan adanya 17 tujuan pembangunaan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang salah satunya menekankan adanya peningkatan pendidikan SDM yang dimulai dari pembentukan karakter yang tangguh dan tidak mudah menyerah. Perubahan paradigma kebijakan kependudukan di Indonesia perlu adanya perubahan/revolusi yang mendasar yang memerlukan kerjasama semua pihak dalam rangka mewujudkan SDM Indonesia yang berdaya saing tinggi.

PENUTUP

Kebijakan dan strategi menyiapkan SDM Indonesia yang berkualitas dikaitkan dengan kompetisi antar negara yang semakin meningkat, gambaran pasar kerja dimasa mendatang baik pada skala global maupun nasional, kemajuan teknologi, dinamika kependudukan secara global utamanya migrasi penduduk, laju urbanisasi potensi SDA Indonesia, serta strategi pembangunan global pasca 2015 perlu dilakukan langkah nyata melalui revolusi kependudukan. Perubahan kependudukan yang ada dapat diukur dengan adanya Indeks Pembangunan Berwawasan Kependudukan (IPBK) yang nantinya diharapkan dengan adanya peningkatan indeks tersebut akan menunjukkan adanya peningkatan derajat kualitas baik kehidupan individu tersebut maupun nantinya sebagai persiapan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.