Logo
images

Pesan Kepala BKKBN Pada Raimuna Pramuka Tingkat Nasional XI 2017

Jakarta - Pramuka merupakan pelopor Generasi Berencana (GenRe) untuk masa depan Indonesia dalam menghadapi Bonus Demografi

Bonus Demografi tidak didapatkan secara otomatis, tetapi dapat diraih dengan kebijakan tepat yaitu SDM yang sehat dan terdidik, usia anak sampai dengan lansia, perempuan dan laki-laki, tenaga kerja produktif, termasuk tenaga kerja perempuan serta stabilitas ekonomi, meningkatnya lapangan kerja.

Kepala BKKBN Surya Chandra Surapaty, mengatakan, gerakan pramuka yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Pulau Rote, dari pelosok desa terpencil sampai ke kota merupakan garda terdepan perekat Persatuan dan Kesatuan Bangsa. 

“Pendidikan kepramukaan yang mendasarkan pada Satya dan Darma Pramuka harus benar-benar tertanam dalam hati setiap insan pramuka sebagai pedoman bersikap dan berprilaku,” ujar Surya, di hadapan peserta pada acara Raimuna Tingkat Nasional XI 2017.

Menurut Surya, saat ini Indonesia sedang memasuki masa bonus demografi yaitu kondisi di mana komposisi atau struktur penduduk sangat menguntungkan dari segi pembangunan. Apalagi,  jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sementara proporsi penduduk yang tidak produktif (berusia kurang dari 14 tahun dan di atas 64 tahun) semakin kecil dan belum banyak. 

Hal yang sama telah didapat di negara yang penduduknya besar seperti Amerika, Tiongkok, Brasil maupun negara dengan penduduk kecil yaitu Korea selatan, Irlandia, Singapura. Perbandingan atau rasio antara jumlah penduduk usia non-produktif terhadap jumlah penduduk usia produktif ini kemudian menghasilkan sebuah angka yang dinamakan angka ketergantungan atau Dependency Ratio (DR). 

Surya menambahkan, penurunan Dependency Ratio inilah yang menunjukkan bahwa penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan penduduk usia nonproduktif. Dilihat dari struktur demografi Indonesia dewasa ini, maka sejak tahun 2012 Indonesia berpeluang untuk mengalami bonus demografi dan akan mencapai titik puncaknya antara tahun 2028 - 2031, di mana Indonesia akan memiliki sekitar 180 juta orang berusia produktif. Sementara yang tidak produktif berkurang menjadi 60 juta jiwa. 

“Ini berarti 10 orang usia produktif hanya akan menanggung 3-4 orang usia tidak produktif. Dampaknya pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan jelas, terjadi peningkatan tabungan masyarat dan tabungan nasional yang merupakan sumber investasi dan pertumbuhan ekonomi, yang akan bermuara pada tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih baik,” tandas Surya. 

Pada fase inilah suplai tenaga kerja yang berkualitas akan tercipta.Bonus Demografi diharapkan mampu mendorong luasnya lapangan kerja untuk menampung seluruh suplai tenaga kerja atau full employement yang menjadi kunci meningkatnya pendapatan per kapita dan tumbuh pesatnya ekonomi nasional. Dari sisi human capital, jumlah anak yang sedikit memungkinkan peningkatan investasi terhadap pendidikan dan kesehatan anak. 

Surya menuturkan, jumlah anak yang sedikit juga berdampak pada meningkatnya kesehatan perempuan. Proyeksi terjadinya Bonus Demografi di Indonesia akan berakhir pada 2031. Diharapkan asumsi proyeksi kependudukan tercapai yaitu Fertilitas menurun (TFR = 2,1 pada tahun 2025) dan Angka Kematian Bayi menurun 22,3 pada 2025. 

“ Bonus Demografi merupakan fenomena yang terjadi hanya sekali. Yang namanya bonus, pasti merugikan jika tidak dapat ‘diambil’ atau dimanfaatkan. Layaknya “pedang bermata dua” Bonus Demografi juga akan menjadi “Zonk Demografi” atau kegagalan demografi bila disia-siakan momentumnya. Agar bonus demografi dapat dimanfaatkan secara maksimal maka diperlukan berbagai upaya dan perencanaan,” tandas Surya.  (Netralnews.com)