Logo
images

Mengenang TNI Dalam Gerakan KB

Oleh: Haryono Suyono

Peran TNI sangat luar biasa, dalam mengantar bangsa ini meraih kehormatan sebagai negara yang sangat berhasil dalam menata penduduknya, yang meledak tanpa ada batasnya menjadi negara dengan penduduk yang pertumbuhan maupun penyebarannya makin teratur dan terkendali.

Alhamdulillah peringatan Hari jadi TNI tahun ini bertemakan “Bersama Rakyat TNI Kuat” yang dilaksanakan di Cilegon berlangsung meriah dan membesarkan hati. Siapa saja yang melihat peringatan itu secara langsung atau melalui tayangan TV atau pemberitaan melalui media sosial, dalam hatinya pasti akan ada rasa bangga bahwa TNI kebanggaannya memiliki kemampuan daya tangguh yang ampuh. Sehingga, hati ini merasa nyaman bahwa Tanah Air kecintaannya pasti akan tetap dilindungi di segala zaman dari ancaman musuh atau mereka yang tidak suka negara kita tercinta ini, makin maju dan siap memakmurkan rakyatnya.

Tampilan TNI yang membanggakan itu mengingatkan kita semua pada rentetan kegiatan TNI dalam berbagai medan di masa lalu. Secara khusus pada tulisan ini ingin kami ungkap peran TNI yang sangat luar biasa, dalam mengantar bangsa ini meraih kehormatan sebagai negara yang sangat berhasil dalam menata penduduknya, yang meledak tanpa ada batasnya menjadi negara dengan penduduk yang pertumbuhan maupun penyebarannya makin teratur dan terkendali, makin lama makin menghasilkan penduduk yang berkualitas dan mampu mengejar ketertinggalannya dari penduduk negara maju lainnya.

Nun di tahun 1969, TNI yang diwakili oleh Presiden pada waktu itu, Jenderal HM Soeharto, setelah mendengar berbagai argumen, dengan berani bergabung dengan para pemimpin dunia lainnya menanda tangani Deklarasi Pemimpin Dunia bahwa Indonesia siap untuk bersama negara lain di dunia menangani masalah kependudukan, agar penduduk bukan menjadi masalah tetapi justru menjadi aset setiap bangsa yang sanggup membangun negara dan bangsanya menjadi bangsa yang maju dan mandiri. Tekad politik yang berani itu dilakukan pada saat yang sangat awal sewaktu Pak Harto dipercaya memimpin negeri ini sebagai Presiden RI tanpa rasa takut bahwa kesertaannya pada gerakan dunia itu akan menurunkan kredibilitasnya dan mengendurkan kepercayaan rakyat kepadanya, yang pada waktu itu sangat pro pada negara dengan penduduk berjumlah besar dan setiap keluarga bisa memiliki anak sebanyak-banyaknya.

Rasa takut tidak populer itu dikesampingkan demi masa depan yang dipercayanya bakal lebih baik dari keadaan yang ada. Suatu kepercayaan prajurit TNI yang teguh dan siap menanggung risiko yang harus dihadapinya. Sikap politik itu tidak tinggal sebagai sikap tanpa makna karena satu tahun kemudian dengan berani Pak Harto membentuk lembaga khusus, BKKBN, yang diserahi tugas mengkoordinasikan upaya mengembangkan program untuk mengajak rakyat banyak mengatur kelahiran anak-anaknya, agar setiap keluarga dapat mengatur pertumbuhan anaknya, mengirim ke sekolah dengan lancar dan mempersiapkan setiap anaknya menjadi aset pembangunan bangsa yang sangat diperlukan, demi pengisian kemerdekaan dengan pembangunan yang membawa kemakmuran kepada bangsanya dan kesejahteraan bagi setiap warganya. Lembaga baru itu segera ditugasi mengembangkan program dan kegiatan lapangan dan secara sistematis membawa bangsa ini makin mantap mengatur pertumbuhan penduduknya secara makro dan mengajak setiap keluarga untuk bekerja sama secara gotong royong dan sukarela menjadi peserta KB yang bermakna tanpa rasa ragu-ragu karena tujuannya bukan untuk kepentingan pribadi tetapi demi kepentingan bangsa yang bersifat menyeluruh dan berjangka panjang.

Ajakan itu mendapat sambutan yang luar biasa sehingga seakan sekali layar berkembang surut ditarik kembali. Tanpa hambatan sama sekali, tidak sampai lima tahun wilayah kegiatan program KB di perluas ke sebelas provinsi lainnya dan tidak sampai sepuluh tahun seluruh wilayah di negara kita ini, apakah daerah itu berpenduduk sedikit atau banyak telah ikut serta dalam program yang tidak ditujukan kepada wilayahnya tetapi untuk mengajak dan menolong setiap keluarga agar ikut serta menjadi penyumbang sumber daya manusia yang berkualitas untuk ikut serta menjadi “prajurit-prajurit” pembangunan bangsa. Setiap keluarga diajak memiliki anak yang dapat dikembangkan menjadi anak yang sehat, disekolahkan setinggi tingginya, sehingga kelak bisa menjadi aset bangsa membangun secara berkelanjutan untuk masa depan bangsa yang gemilang dan disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Setelah sepuluh tahun berjalan hampir tanpa hambatan, pada akhir tahun 1980-an masyarakat menjadi tidak sabar karena tingkat kelahiran belum menurun dan pertumbuhan penduduk masih tetap tinggi dan tetap dalam kecenderungan yang menaik. Tidak sabarnya rakyat itu disambut oleh Pak Harto sebagai mantan TNI bahwa program perlu dipercepat. Kepala BKKBN baru yang dinamis dan secara jujur mengakui bahwa aparat pemerintah, Kementerian Kesehatan dan jajarannya belum memiliki tenaga dokter dan bidan untuk menangani jumlah keluarga yang diperlukan untuk ber-KB. Maka sebagai seorang “jenderal” pak Harto setuju mengajak dan menugasi para dokter dan bidan serta prajurit jajaran TNI ABRI waktu itu ikut terjun dalam gerakan yang makin gegap gempita tersebut.

Sejak tahun 1980-an itulah kemudian TNI ABRI ikut terjun dalam gerakan KB ke desa-desa dan pulau menjelaskan kepentingan bangsa ini mengatur perkembangan kependudukan dan perlunya ikut KB secara sukarela dan dengan setia. Pasangan usia subur dari desa dan pulau-pulau dibantu diangkut dengan kapal dan kendaraan TNI untuk pergi ke klinik KB yang terdekat guna mendapatkan pemeriksaan dokter dan pelayanan kontrasepsi, atau dokter dan para medis TNI diterjunkan ke desa dan pulau-pulau terpencil. Ada tuduhan pemaksaan karena tidak tahu. Seorang ibu tidak mungkin dipaksa dipasangi spiral karena kalau dipaksa pasti akan terjadi perdarahan yang sangat parah. Kalau dipaksa diberi pil KB pasti tidak akan diminum setiap hari dan ibu itu pasti hamil juga.

Dokter dan bidan Kementerian Kesehatan yang terbatas dibantu oleh para dokter dan bidan TNI yang dengan sukarela diterjunkan ke daerah-daerah terpencil di desa terisolir atau di pulau-pulau yang tidak ada fasilitas medisnya secara resmi. Pasukan TNI dilatih menjadi petugas komunikasi dan informasi yang fasih. Di kemudian hari kegiatan KB di kombinasikan dengan kegiatan TNI Masuk Desa yang bersama rakyat desa secara gotong royong membangun desa dan menyediakan sarana kebutuhan vital lainnya. TNI ABRI tidak melawan musuh tetapi bersama rakyat membangun kesejahteraan dan kebahagiaan. Hasilnya sungguh luar biasa. Pada akhir tahun 1980-an Indonesia mendapat penghargaan PBB berupa UN Population Awards.

(Prof. Dr. Haryono Suyono, Mantan Kepala BKKBN).

Sumber : http://www.suarakarya.id/detail/47498/Mengenang-TNI-Dalam-Gerakan-KB