Logo
images

Meet Up BKKBN Bersama Komunitas Fotografer dan Blogger

Jakarta 15/05/2018 - Dalam rangka sosialisasi Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018 BKKBN mengadakan Kegiatan Meet Up  BKKBN Bersama Komunitas Fotografer dan Blogger dengan tema Cinta Keluarga, Cinta Terencana di Museum Penerangan, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang dibuka oleh Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga yang juga selaku Plt Deputi Bidang Advokasi, Penggerakan, dan Informasi, Dr. dr. M. Yani, M.Kes, PKK. Kegiatan ini dihadiri oleh Para Pejabat Tinggi Pratama BKKBN, Komunitas Fotografer dan Blogger, Para Narasumber yaitu Eka Sulistya Ediningsih (Direktur Bina Ketahanan Remaja BKKBN), Roslina Verauli (Psikolog anak, remaja dan keluarga), Resi (Blogger Plus Community) dan Sumaryanto Bronto (fotografer Media Indonesia). Kegiatan ini bertujuan untuk (1) Mengubah komunitas yang sebelumnya adalah publik laten menjadi publik pasif dan terlebih publik aktif (2) Mendorong partisipasi komunitas untuk dapat membantu membuat konten  seputar program-program BKKBN & Hari Keluarga (3) Mendorong partisipasi komunitas untuk dapat menyebarkan konten seputar program-program BKKBN & Hari Keluarga.
 
 
Kondisi bonus demografi pada tahun 2030 yang dihadapi Republik Indonesia saat ini, dimana penduduk usia produktif (17-35 tahun) mencapai 30% populasi harus dapat dikelola dengan baik dan dapat membuahkan hasil yang produktif bagi negara. Kunci utama kondisi ini ada pada sektor pengelolaan isu keluarga berencana dan kependudukan yang dikelola oleh BKKBN (leading sector).
 
Bonus demografi sangat tergantung pada kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia yang pemanfaatannya harus dipersiapkan  dengan baik. Keluarga merupakan pilar utama dalam membentuk manusia Indonesia, untuk itu perencanaan yang baik dalam membentuk keluarga. Isu perencanaan keluarga sangat strategis untuk diangkat dan dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, jelas Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga yang juga selaku Plt Deputi Bidang Advokasi, Penggerakan, dan Informasi, Dr. dr. M. Yani, M.Kes, PKK 
 
Untuk dapat mengelola hal tersebut, dibutuhkan kerja bersama, tidak hanya dikelola oleh satu pihak saja, oleh sebab itu BKKBN harus dapat bermitra dengan para stakeholder lainnya, termasuk para komunitas. Kondisi masa kini yang sangat fragmentasi, menjadikan komunitas (dimana para anggotanya berkumpul dengan visi, misi, & tujuan yang sama/homogen/spesifik) sebagai publik yang harus lebih diperhatikan dalam aktivitas advokasi.
 
 
BKKBN harus dapat menciptakan customer experience dengan komunitas, membuat para anggota komunitas terlibat aktif dalam kerja tersebut, dengan memberikan data dan fakta yang dihadapi dan mengajak para komunitas berperan aktif untuk kerja bersama, tambah Yani.
 
Tema kegiatan ini berkaitan dengan bagaimana membangun keluarga dengan cinta terencana. Pembangunan keluarga yang sehat dapat diawali dengan semangat Cinta Terencana, hal ini dapat diimplementasikan sejak masa remaja yang dianjurkan untuk merencanakan pernikahannya di usia yang cukup demi alasan kesehatan, sosial, maupun ekonomi.
 
 
Tidak hanya itu, program ini dilanjutkan dengan kegiatan perencanaan ketika sudah berkeluarga. Pasangan suami istri seharusnya dapat merencanakan kelahiran anak-anaknya sesuai dengan jangka waktu, kecukupan ekonomi, dan kesehatan ibu dengan berbagai alasan yang logis dan rasional, misal menjaga kesehatan psikologi anak secara proporsif antara anak pertama dan anak kedua, dan seterusnya, agar anak-anak mendapatkan cukup porsi kesehatan fisik maupun kejiwaan, salah satunya adalah dampak dari Stunting.
 
Semua itu dilakukan dengan maksud agar Keluarga dapat terbangun secara sehat dan tidak menimbulkan dampak yang sekiranya dapat merugikan keluarga tersebut dan juga sosial.
 
Selain itu maksud dari pertemuan ini adalah agar komunitas sebagai bagian dari masyarakat dapat turut serta berperan aktif membantu BKKBN dalam melakukan advokasi segala program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga, tutup Yani.  (HUMAS)