Logo
images

Kepala BKKBN : Mencegah Stunting Tidak dengan Mengobati Data, Namun dengan Mengobati Penyebabnya

SIARAN PERS No. RILIS/92/B4/BKKBN/IX/2019.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) - Menurut United Nation Development Programs (UNDP), angka Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia dikategorikan tinggi yaitu 70,81 pada tahun 2017. Meski IPM sudah menunjukkan peningkatan namun pembangunan manusia masih merupakan pekerjaan rumah yang sangat berat bagi pemerintah Indonesia. Terlebih saat ini perkembangan dunia sudah mencapai pada era revolusi industri tahap 4.0.

Komponen kesehatan merupakan komponen yang memberikan kontribusi terbesar di mana angka harapan hidup penduduk Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pembangunan manusia di bidang kesehatan sangat dipengaruhi oleh keberhasilan dalam bidang gizi, peningkatan kualitas 1000 hari pertama kehidupan, penurunan kematian ibu dan anak, pengendalian fertilitas, peningkatan kesehatan reproduksi dan pembangunan keluarga

 

"Ada faktor-faktor penting untuk menjaga kualitas manusia dan keluarga, saat ini masih banyak ditemui ibu hamil dengan resiko tinggi, banyak keluarga yang memiliki anak stunting, banyak yang tidak ingin punya anak tapi tidak ber KB (unmet need) karena itu saya sampaikan harus memperhatikan jarak kehamilan satu dengan kehamilan selanjutnya karena hal ini menyebabkan resiko kematian ibu dan bayi akan naik apabila jarak antar kehamilan sangat dekat. Jarak kehamilan yg dekat ini juga dapat mempengaruhi terjadinya stunting dan persoalan lainnya." Jelas Hasto saat menyampaikan materi tentang Family 4.0 dalam Kebijakan Pembangunan Keluarga pada acara Musyawarah Nasional ke-IV Koalisi Kependudukan Indonesia di Nusantara Hall 3 ICE, Tangerang, Banten (12/09/2019).

Musyawarah Nasional (Munas) Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) dibuka secara resmi oleh Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Eko Putro Sanjoyo. Kegiatan ini diselenggarakan setiap 4 tahun, dengan peserta terdiri dari perwakilan KKI Provinsi dan Kabupaten/kota serta mitra KKI baik pemerintah maupun organisasi sosial kemasyarakatan, Dunia Usaha, Tokoh Masyarakat dan Agama sebanyak 350 orang.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Gubernur Provinsi Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Wakil Gubernur Banten Andhika Hazrumy, Bupati Landak Kalimantan Barat Karolin Margret Natasa, Ketua Koalisi Kependudukan Indonesia Sonny Harry B Harmadi, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi seluruh Indonesia.

 

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengungkapkan, "Mencegah stunting harus dari bayi yang belum lahir sampai dengan bayi yang sudah lahir sampai pada 1000 hari pertama kehidupan. Suami dan istri harus mempersiapkan diri juga dengan memperhatikan kesehatannya. Kesehatan suami misalnya yang perokok dapat berpengaruh pada kualitas sperma, bibit sperma yang tidak bagus bisa mempengaruhi kualitas janin yang akan dihasilkan. Bayi dibentuk plasenta hanya dalam waktu 16 minggu, placenta ini yang akan menentukan akan terbentuk bayi yang unggul atau tidak, maka pada perempuan dan ibu perlu ada asupan vitamin, zat besi, asam folat sejak sebelum hamil," ungkap Hasto.

"Tentang stunting saya harap kita jangan ribut dampaknya dihilir tapi di era modern ini kita bisa memikirkan yang di hulunya, jangan sampai kita akhirnya hanya berusaha mengobati data, yang harus kita lakukan adalah mengobati penyebabnya," tegas Hasto.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menjelaskan, "Upaya yang saat ini dilakukan BKKBN untuk mencegah stunting diantaranya melalui Bina Keluarga Balita (Bina Keluarga Balita) kemudian melalui Keluarga Berencana sebagai upaya untuk pengaturan jarak kehamilan," jelas Hasto.

 

Bina Keluarga Balita (BKB) bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orangtua untuk mengasuh dan membina tumbuh kembang anak melalui kegiatan stimulasi fisik, mental, intelektual, emosional, spiritual, sosial dan moral. Pelaksanaan layanan BKB saat ini sudah terintegrasi dengan layanan Posyandu dan PAUD.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menambahkan, "Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional melalui Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM, mengurangi kemiskinan, dan mencapai kebahagiaan, yaitu melalui pembentukan struktur umur yang seimbang dalam keluarga (dibiayai dan membiayai), menjaga kesehatan reproduksi ibu, meningkatkan gizi & pendidikan anak," pungkas Hasto. (HUMAS)