Logo
images

Kepala BkkbN Kalbar, Kusmana yang menjadi narasumber dalam kegiatan Rakerwil AMSI

Kepala BKKBN Kalbar Ajak Asosiasi Media Siber untuk Menekan Angka Pernikahan Dini

PONTIANAK- Menyongsong pertumbuhan yang kian canggih, diperlukannya wadah media Siber untuk seluruh elemen masyarakat dari anak-anak hingga dewasa, Rabu (3/4/2019). 

Mengingat akan hal tersebut, Asosiasi Media Cyber Indonesia (AMSI) wilayah Kalimantan Barat mengajak Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk bekerjasama dalam literasi penyebaran informasi bagi masyarakat. 

Kepala BKKBN Kalbar, Kusmana yang menjadi narasumber dalam kegiatan Rakerwil AMSI mengatakan bahwa untuk memberikan edukasi informasi positif bagi masyarakat sangatlah penting. Sejalan dengan program serta visi misi dari AMSI, bahwa masyarakat Kalbar berhak mendapatkan, memilih dan menerima informasi sesuai dengan aturan yang ada. 
 

"Pertama kali dalam kegiatan ini, bahwa media yang berperan penting menyampaikan sesuatu hal yang positif tentu sangat penting untuk menggandeng masyarakat  dengan memanfaatkan ketersediaan media Siber yang saat ini sudah menjadi tren di kalangan anak muda," ujarnya. 

Perlu diketahui, meskipun dari 14 kabupaten di Kalbar, persentase perkawinan pertama bagi perempuan di umur 10 tahun ke atas di kota Pontianak sudah menduduki peringkat terakhir dengan angka 7,76 persen perkawinan di usia kurang dari sama dengan 16 tahun dan sebesar 14,58 persen di usia 17 sampai 18 tahun, namun di kabupaten lain pernikahan anak masih cukup tinggi. 

Hal ini menjadi tanggung jawab bagi BKKBN untuk mengedukasi masyarakat, khususnya di kalangan muda untuk tidak menikah dini. 

Namun, meskipun begitu Kusmana mengatakan data ini tidak serta merta menjustifikasi suatu wilayah tertentu menjadi sasaran BKKBN kalbar. Sebab, 63 dari 1000 orang wanita di masa subur yang melahirkan itu hampir terjadi di setiap wilayah di Kalbar.

"Kita bisa lihat, jika kita masuk ke desa-desa, di wilayah tertentu yang jauh dari jangkauan kita, itu masih banyak ditemukan anak-anak (di bawah umur) yang sudah punya anak," sebutnya kepada media. 

Dengan demikian, pihaknya selalu berusaha dengan berbagai cara menekan angka pernikahan di usia dini dan meneruskan program pemerintah dalam menggratiskan sekolah hingga tingkat SMA. 

"Dengan berbagai usaha yang kita lakukan, bukan berarti kita menjudge suatu daerah akan tetapi kita meminimalisir kurangnya angka pernikahan dini yang belum waktunya," imbuhnya. 

Sebetulnya, banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya pernikahan di usia dini. Meskipun dari BKKBN, Pemerintah maupun pihak-pihak lain yang peduli akan hal sudah sangat masif mensosialisasikan dampak dari ketidaksiapan dari pernikahan dini, baik secara psikis, reproduksi hingga finansial, namun Kusmana melihat pergerakan itu tidak bisa dilakukan dengan waktu yang relatif singkat. 

Lanjutnya, dengan adanya media cyber pendekatan dalam hal menyebarkan informasi bisa terus dilakukan untuk manjadi hal yang positif terutama bagi kaum perempuan.

Setiap media yang berperan harus ikut serta sadar bahwa dengan konten yang ditulis dengan positif perlahan bisa terus menyadarkan masyarakat Kalabr guna mengurangi angka pernikahan dini.


Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Kepala BKKBN Ajak Media Siber untuk Menekan Angka Pernikahan Dini, 

Sumber: http://pontianak.tribunnews.com/2019/04/03/kepala-bkkbn-ajak-media-siber-untuk-menekan-angka-pernikahan-dini
Penulis: Maudy Asri Gita Utami
Editor: Jamadin