Logo
images

Jaga Pertumbuhan Seimbang

KUTA - (19/9/2018) - Pemerintah menargetkan tingkat fertilitas 2,1 mulai 2020 agar besarnya jumlah penduduk usia produktif bisa dijaga lebih lama. Jika beban penduduk nonproduktif melonjak, akan membebani.

Mulai tahun 2020, penduduk Indonesia ditargetkan tumbuh seimbang dengan tingkat fertilitas atau jumlah anak per perempuan usia subur 2,1 anak. Jika gagal, Indonesia akan kekurangan penduduk usia produktif seperti yang dialami negara maju saat ini. 

Proyeksi Penduduk 2015-2045 berdasarkan hasil Survei Penduduk Antarsensus (Supas) 2015 menyebut, tingkat fertilitas (total fertility rate/TFR) pada 2015 mencapai 2,17. Tingkat fertilitas ini ditargetkan terus turun hingga mencapai 2,1 pada 2020 dan selanjutnya dijaga stabil pada angka 2,1 hingga 2045. 

Tingkat fertilitas 2,1 menjadi syarat penduduk tumbuh seimbang. Penduduk seimbang digambarkan sebagai satu penduduk yang meninggal akan digantikan satu penduduk baru. Jika target TFR 2,1 bisa dijaga, jumlah penduduk Indonesia pada 2045 mencapai 319 juta jiwa Jika gagal, jumlahnya mencapai 311 juta jiwa.

Menteri Kesehatan Nila Dju-wita Moeloek seusai membuka Konferensi Internasional Tingkat Menteri dalam Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular di Kuta, Bali, Selasa (18/9/2018), mengatakan, rendahnya tingkat fertilitas membuat laju pertumbuhan penduduk lanjut usia tinggi dan pertambahan penduduk usia produktif (15-64 tahun) melambat.

"Meski tumbuh seimbang, penduduk (Indonesia) tetap harus berkualitas," katanya Kondisi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi mereka akan sangat menentukan kualitas penduduk. 

Tidak mudah 

Di luar persoalan bahwa TFR hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017 mencapai 2,4 anak atau lebih tinggi dibanding hasil Supas 2015, upaya menjaga penduduk seimbang bukan perkara mudah. Tren global di negara maju menunjukkan sulitnya mendorong kembali kelahiran setelah turun drastis. 

Meski secara nasional penduduk Indonesia masih di atas batas seimbang, tingkat fertilitas di sejumlah provinsi pada 2015 sesuai Proyeksi Penduduk 2015-2045 sudah di bawah 2. Di DI Yogyakarta dan Jawa Timur TFR-nya sudah 1,82; DKI Jakarta 1,87; Bali 1,89; dan Jawa Tengah 1,95. 

Dalam situasi itu, lanjut Pelaksana Tugas Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Sigit Priohutomo, program kependudukan di setiap daerah tidak bisa disamaratakan. "KB bukan hanya soal membatasi atau menunda kelahiran," katanya.

Ke depan, program kependudukan dan KB difokuskan untuk anak muda sebagai generasi masa depan agar memiliki pendidikan, kesempatan kerja, dan perencanaan pembangunan keluarga dengan baik. 

Sementara itu, Guru Besar Sosiologi Masyarakat Universitas Korea, Seoul, Korea Selatan, Myung Jin Hwang memaparkan beratnya upaya Korsel membalikkan keadaan agar masyarakatnya mau lagi memiliki anak. Saat program kb dikenalkan pada 1981 dengan program hanya satu anak, tingkat fertilitas masyarakat masih 2,8. 

Pada 1996, katanya, kebijakan satu anak dihapus. Sejak 2003, sejumlah program untuk mendorong lebih banyak anak dilakukan, seperti bantuan perumahan, pengasuhan anak untuk orangtua yang bekerja, dan bantuan pendidikan. Namun, hasilnya TFR Korsel pada 2017 hanya 1,05. 

Jepang dan negara maju lain juga mengalami hal serupa Sementara sejumlah negara dengan penduduk yang besar dan pertumbuhan ekonominya tinggi mulai mengalami percepatan pertambahan penduduk senior, seperti China, Thailand, dan Singapura.

Struktur demografi penduduk Indonesia sebenarnya termasuk penduduk muda Namun, pelan tetapi pasti, penduduk lansia terus bertambah. Apalagi, saat bonus demografi nanti selesai setelah tahun 2035.

sumber : KOMPAS , Rabu 19 September 2018