Logo
images

Hari Keluarga, Hari Kita Semua Peringatan Hari Keluarga Nasional XXVI di Provinsi Kalimantan Selatan

 

Oleh : Lismomon Nata (Sosiolog/ Widyaiswara Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Barat)

 

Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XXVI yang dipelopori BKKBN tahun ini dipusatkan di Provinsi Kalimantan Selatan. Kalimantan Selatan layaknya provinsi yang tersebar di seluruh Indonesia juga memiliki sejarah perjuangan melawan penjajah. Contohnya saja perang yang berlangsung antara tahun 1859-1905, dikenal dengan Perang Banjar. Perperangan tersebut diyakini bukan hanya sebagai upaya untuk mempertahankan tanah banyu (tanah air) Banjar, namun juga adalah sebuah perang suci untuk melawan penjajah (Anis Arifin dkk, 2005).

Dengan demikian dapat memberikan arti bahwa masyarakat Banjar adalah masyarakat yang gigih, rela berkoban dan memiliki semangat juang, serta menjunjung tinggi nilai agama. Begitupun pandangan ketika mendengar kata Banjarmasin, maka sangat kuat erat hubungannya dengan etnik Banjar, di samping etnik Dayak. Lesley Potter menulis bahwa orang Banjar sering terutama dipandang sebagai pedagang. Dipusatkannya Harganas di Kalimantan Selatan tentu juga mengingatkan pada sejarah perjuangan tersebut serta alamnya nan elok dengan masyarakat yang ramah. Begitupun dengan rapinya tata kota memberikan kesan indah bagi siapa saja yang pernah mengunjungi ‘tanah Borneo’.

Harganas XXVI mengangkat tagline, ’Hari Keluarga, Hari Kita Semua’. Hal ini tentu dalam rangka menghidupkan kembali kesadaran kolektif akan arti penting keluarga dalam tatanan kehidupan sosial. Dimana beberapa waktu belakangan ini terkesan terabaikan. Hal ini disadari karena keluarga merupakan pondasi dalam sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan semua hal dapat bersumber dan bermuara dari dan untuk keluarga. Jika keluarga-keluarga dalam sebuah negara kuat, maka dapat dipastikan negaranya kuat dan sebaliknya, jika keluarga-keluarga rapuh, maka akan menjadikan negara tersebut seperti benteng ruyung yang mudah dimakan api.

Kenyatannya, banyak fakta yang memberikan pembelajaran hidup bahwa keluarga Indonesia hari ini telah mengalami perubahan pola kehidupan, apalagi saat ini Indonesia mengklaim sebagai negara yang juga berada dalam pusaran era revolusi 4.0. Kondisi tersebut memberikan pemahaman bahwa keluarga-keluarga Indonesia menjadi rentan terjadinya dehumanisasi, disfungsi keluarga dan melemahnya hubungan kekeluargaan, berganti menjadi sebatas hubungan ekonomis dan politis.

Kehidupan konteks hari ini juga dikenal dengan era digital. Dimana hampir seluruh aspek kehidupan manusia tidak terlepas dari berbagai macam benda digital dan berteknologi tinggi, seperti; tv, laptop, gadgets, hand phone (HP), maupun alat elektronik lainnya yang menyediakan layanan informasi sekaligus hiburan dan permainan (game). Benda-benda tersebut dengan mudah ditemukan hampir di setiap rumah, tanpa pandang kelas sosial, mulai dari kalangan bawah hingga atas, sehingga anak-anak sejak usia balita sudah mengenalnya. Dapat dibayangkan bagaimana ketika kehidupan kini, dimana tidak hanya laki-laki, melainkan juga perempuan bekerja di ranah publik. Jika mereka mimiliki anak, maka kecendrungan anak ditinggalkan di rumah. Baik dengan cara menitipkan pada tempat penitipan, baby sitter ataupun orang-orang dipercaya oleh keluarga. Meskipun tidak dapat dipungkiri juga bahwa era ini memberikan peluang usaha yang menjanjikan, seperti munculnya pola ekonomi secara digital. Namun, semua itu terkesan masih hanya dapat dimanfaatkan oleh segelintir orang yang inovatif dan kreatif serta dapat memanfaatkan teknologi informasi secara cerdas, seperti bisnis jasa dan jual beli secara online atau menjadi youtubers.

Saat kedua orang tua memiliki rutinitas dengan agenda pekerjaan yang menghabiskan banyak waktu, mungkin saja dari pagi hingga sore atau bahkan larut malam dan keesokan harinya mesti kembali melakukan hal yang serupa, begitu secara terus-menerus, sehingga tidak mengherankan jika bertemu dengan anak hanya saat mereka masih sedang tidur. Begitupun ketika hari libur seringkali juga tidak dapat meluangkan waktu untuk sekedar bermain dan berkomunikasi dengan anak secara intens, karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan atau memang ingin beristirahat tersebab sudah sangat lelah bekerja. Dengan demikian, seperti hanya memiliki sedikit, bahkan hampir tidak ada waktu untuk keluarga. Dampaknya tidak tanggung-tanggung, yaitu keterlekatan hubungan dan rasa antara orang tua dengan anak memiliki relasi kuat sebagai faktor penyebab terjerumus atau tidaknya anak pada masalah sosial, seperti prilaku menyimpang, tindakan kriminal dan Narkoba atau bisa saja penyebab keluarga itu sendiri menjadi berantakan.

Jika kita runut dan pahami bahwa kehidupan modern dengan segala konsekuensinya merupakan suatu kenyataan yang tidak terelakan, termasuk dengan kebutuhan manusia untuk menggunakan berbagai alat digital. Misalkan saja Hand Phone (HP) untuk berkomunikasi, berjejaring sosial, mendapatkan informasi dan hiburan. Namun, tentu diharapkan tidak meninggalkan eksistensi kegunaannya dan sisi manusiawi yang membuat manusia tergantung, menghabiskan hari-harinya hanya dengan barang elektronik secara tidak terkontrol, sehingga menyebabkan ‘lupa diri’. Misalnya, karena ada berbagai macam aplikasi hiburan atau permainan pada HP, supaya merasa tidak diganggu oleh anak saat bekerja, maka HP diberikan kepada anak sebagai pengganti diri (peran orang tua), bahkan prilaku seperti itu telah dibiasakan semenjak anak balita. Meskipun anak sangat antusias bermain HP, seperti mendapatkan teman yang menyenangkan. Tapi tentu juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak dan menjadikannya candu.

Sementara, apabila kita kembali kepada permodelan kesadaran manusia, terutama area pikiran bawah sadar dan pengalaman induktif, yaitu segala macam informasi yang berasal dari pihak luar (exsternal factor) sebagai sumber informasi paling dominan membentuk seseorang, yang mana sebahagian besar anak-anak mendapatkan informasi dari benda digital tersebut, maka dapat dibayangkan data dan informasi yang masuk serta disimpan dalam otak anak bersumber dari benda digital yang sering digunakannya. Segala infomrasi, baik berupa gambar, suara, direkam dalam ingatan bawah sadar mereka tidak ubahnya seperti air bah yang melanda apa saja, tanpa ada saringan yang kadangkala bertabrakan dengan asas kepatutan dan kepantasan diusia mereka. Orang tua tanpa sadar bahwa anak-anak mereka telah dibentuk dan dibesarkan oleh benda-benda tersebut.

Oleh karena itu, guna menjaga nilai dan keutuhan institusi keluarga, maka peran orang tua terhadap anak sangat diperlukan, tanpa menonjolkan streotipe bahwa ibu lebih penting daripada ayah. Artinya, keterlibatan kedua orang tua sangat diperlukan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu bagaimana kedua orang tua dapat berinteraksi dengan waktu yang cukup dengan sesama anggota keluarga secara berkualitas. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, seperti mengatur jam kerja, meluangkan waktu makan bersama, bercengkrama dan berdiskusi, kehadiran diri secara fisik dan psikis serta pikiran penuh dengan anggota kelaurga, serta memberikan perhatian dan kontrol terhadap setiap kegiatan yang dilakukan, baik di dalam maupun di luar rumah. Begitupun pengaturan terhadap penggunaan berbagai alat digital tersebut.

Oleh karena itu, ikatan emosional yang terjalin kuat antara orang tua dengan anak, pendidikan dan pengetahuan orang tua dalam keluarga tentu juga sangat menentukan ketahanan keluarga. Kesadaran ini telah muncul pada kehidupan konteks hari ini, seperti adanya ilmu keluarga, menjadi orang tua hebat (parenting) dan menjamurnya tempat pendidikan anak usia dini. Apa yang dilakukan dalam upaya penguatan peran orang tua terhadap anak, akan memberikan kesadaran bahwa sedapatnya tentu pada setiap pertumbuhan sel anak, maka kita selaku orang tua berharap memiliki andil terbesar dalam tumbuh dan kembangnya, agar tidak ada sesal dikemudian hari (Mardigu Wowiek Prayasantyo, 2015).

Dengan demikian, melalui peringatan Hari Keluarga Nasional membantu untuk setiap keluarga Indonesia mehami fungsi masing-masing anggota keluarga, memahami pola asuh agar anak tidak salah asuh dan peran secara sosial. BKKBN menawarkan delapan fungsi keluarga untuk selalu dilaksanakan dalam setiap keluarga yaitu fungsi agama, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi ekonomi, fungsi pendidikan serta sosialisasi dan fungsi lingkungan sebagai bentuk berfungsinya sebuah keluarga secara utuh. Di samping itu, peringatan Hari Keluarga tentu tidak hanya sekedar syiar atau promosi pentingnya keluarga saja, melainkan lebih jauh sebagai usaha berkelanjutan terhadap advokasi, komunikasi, informasi dan edukasi kepada stake holders lokal sebagai pengambil kebijakan pada tatanan masyarakat luas untuk mendorong kesadaran kepada seluruh warga Negara Indonesia akan pentingnya peranan dan arti keluarga terhadap ketahanan berbangsa dan bernegara apalagi pada saat sekarang ini di era demokrasi dan disentralisasi.

Kesadaran memberikan imun agar keluarga-keluarga Indonesia tahan terhadap serangan penyakit keluarga, baik secara internal, seperti tidak berdaya guna dan disharmonis, maupun secara sosial, yaitu menjadi pelaku masalah sosial atau hanya menjadi objek dan konsumen. Namun sebaliknya, yaitu harapan untuk keluarga sebagai pilar dasar dan dapat berkontribusi nyata terhadap kemajuan bernegara, guna mewujudkan masyarakat adil, makur dan sejahtera. Sukses untuk Provinsi Kalimantan Selatan. Selamat memperingati Hari Keluarga, Hari Kita Semua.