Logo
images

Generasi Millenial, Generasi Bonus Demografi

SIARAN PERS No. RILIS/93/B4/BKKBN/IX/2019

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo Sp.OG(K) berharap para generasi milenial dapat memanfaatkan bonus demografi, yang puncaknya terjadi pada 2035. Jika hal tersebut dapat dimanfaatkan, Indonesia akan mendapatkan anugerah dalam meningkatkan sumber daya manusia (SDM).

"Kami berharap bonus demografi dimaknai dengan kualitas SDM yang unggul, agar bonus tersebut menjadi manfaat untuk kesejahteraan Indonesia”, ujar Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo saat mengisi materi dalam kuliah umum kepada mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Bangka Belitung, Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (12/9).

Menurut Hasto era bonus demografi adalah masa dimana banyaknya kelompok usia produktif lebih banyak dari non produktif sehingga rasio ketergantungan cukup menggembirakan, karena menurunnya angka kematian Ibu dan berkurangnya angka kelahiran bayi karena berhasilnya penggunaan alat kontrasepsi.

Hasto menjelaskan bahwa bonus demografi dapat dimanfaatkan bagi generasi muda yang mau berusaha. Khususnya bagi mereka yang terus meningkatkan hard skill dan soft skill yang dimilikinya. "Makanya generasi muda harus banyak berilmu, soft skill itu penting hard skill juga penting, kalau tidak punya salah satu jatuhnya sesat menyesatkan," ujar Hasto.

Selain itu, ia juga mengingatkan kepada generasi muda untuk gemar membaca berbagai literasi. Karena lewat bacaan, berbagai ilmu dapat diperoleh untuk meningkatkan kualitas diri.

Jika kualitas generasi muda semakin baik, seseorang akan memiliki nilai lebih ketimbang orang lain. Dengan begitu, ia akan lebih siap bersaing dalam menghadapi bonus demografi. "Adik-adik sekalian, jika ingin belajar banyak-banyaklah membaca, tanpa membaca hal itu akan sulit. Manfaat membaca itu sangat menguntungkan," jelas Hasto di hadapan mahasiswa STKIP Bangka Belitung.

Dalam belajar, Hasto menjelaskan bahwa pembelajaran atas sesuatu harus dimulai selangkah demi selangkah. Diawali dengan akusisi, lalu kompeten, dan terakhir menjadi profisien.

"Oleh karena itu, perlu mengubah mindset identik, kalau belajar itu selalu dimulai dari akusisi, lalu kompeten, tapi itu tidak cukup, tapi harus profisien. Agar kita menjadi yang terbaik dalam bidang kita," tutup Hasto. (HUMAS)