Logo
images

Generasi Milenial: Peluang Menuju Bonus Demografi

SIARAN PERS No. RILIS/99/B4/BKKBN/VII/2019

Jakarta - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bekerja sama dengan Universitas Yarsi dan CNN Indonesia, menyelenggarakan talk show CNN Indonesia Meet Up! di depan mahasiswa Universitas Yarsi pada Selasa (24/09) di auditorium Universitas Yarsi, Jakarta. Acara ini dihadiri oleh Kepala BKKBN, Rektor Universitas Yarsi beserta jajaran, Sekretaris Utama BKKBN, jajaran civitas akademika Universitas Yarsi, dan mahasiswa/mahasiswi Universitas Yarsi.

Kepala BKKBN, dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) dalam dialog interaktif menyampaikan bahwa BKKBN berdasarkan UU Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, mempunyai tugas untuk mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan mengembangkan kualitas penduduk pada seluruh dimensi penduduk. “Pengendalian kuantitas penduduk dilakukan dengan penetapan perkiraan seperti jumlah, struktur dan komposisi penduduk, pertumbuhan penduduk dan persebaran penduduk.” Jelas Hasto.

Tanpa adanya kampanye Keluarga Berencana (KB), maka pertumbuhan penduduk akan jauh lebih besar serta dikhawatirkan menimbulkan berbagai dampak negatif. Dalam hal ini, KB sebenarnya merupakan perwujudan pemenuhan hak reproduksi dan perencanaan keluarga yang meliputi: 1) usia ideal perkawinan; 2) usia ideal untuk melahirkan; 3) jumlah ideal anak; 4) jarak ideal anak; 5) penyuluhan pola asuh anak baik usia anak-anak maupun remaja; 6) penyuluhan relasi antar anggota keluarga yang meliputi relasi antara anak-orang tua- lansia; 7) peningkatan kesehatan reproduksi melalui penyuluhan kesehatan reproduksi baik untuk anak-remaja maupun dewasa. “Oleh karena itu, sasaran program tidak hanya pasangan usia subur atau suami istri melalui pelayanan KB, namun yang paling utama adalah menyiapkan generasi muda sehingga dapat merencanakan kehidupannya kelak dan dapat memanfaatkan bonus demografi dengan baik”.

Hasto mengatakan bonus demografi merupakan keberhasilan dari program keluarga berencana yang dicanangkan sejak 1971. Bonus demografi muncul karena tingkat fertilitas dan mortalitas menurun, begitu juga kematian ibu dan bayi dalam persalinan.

Menurut Hasto era bonus demografi adalah masa dimana banyaknya kelompok usia produktif lebih banyak dari non produktif sehingga rasio ketergantungan cukup menggembirakan, karena menurunnya angka kematian Ibu dan berkurangnya angka kelahiran bayi karena berhasilnya penggunaan alat kontrasepsi.

Hasto menjelaskan bahwa bonus demografi dapat dimanfaatkan bagi generasi milenial yang mau berusaha. Khususnya bagi mereka yang terus meningkatkan hard skill dan soft skill yang dimilikinya. "Makanya generasi muda harus banyak berilmu, soft skill itu penting hard skill juga penting, kalau tidak punya salah satu jatuhnya tidak akan berkualitas," ujar Hasto.

Demi mempersiapkan pemanfaatan bonus demografi, BKKBN menjalin kerjasama dengan Universitas Yarsi dengan penandatangan Nota Kesepahaman bersama antara Kepala BKKBN dengan Rektor Universitas Yarsi dalam rangka Pencanangan Universitas Yarsi sebagai Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan.

Rektor Universitas Yarsi Prof Fasli Jalal PhD menyambut baik kerjasama tersebut dan diharapkan melalui intervensi pendidikan kependudukan dan program kegiatan-kegiatan KKBPK lainnya yang diselenggarakan oleh BKKBN dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa akan pentingnya pertimbangan kependudukan dalam hidup berkeluarga dan bermasyarakat. “Semoga kerjasama ini dapat terimplementasi dengan baik, dan berkontribusi positif terhadap pembangunan anak bangsa dalam memanfaatkan peluang bonus demografi”, harap Fasli. (HUMAS)