Logo
images

DAMPAK TEKNOLOGI MENJADI TANTANGAN KELUARGA INDONESIA MASA KINI

Siaran Pers No. RILIS/106/B4/BKKBN/X/2019

Jakarta 14/10/2019 – Salah satu agenda pembangunan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) IV 2020-2024 adalah membangun kebudayaan dan karakter bangsa. Untuk mencapai agenda tersebut salah satu fokus yang dituju adalah meningkatkan kualitas dan ketahanan keluarga dengan strategi membangun sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing, karena ketahanan keluarga yang baik merupakan modal dasar untuk mewujudkan ketahanan nasional dan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam menanamkan fungsi keluarga.

Selain itu, dengan adanya bonus demografi yang akan dicapai oleh Indonesia, harus didukung dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang cerdas, produktif, berkarakter, dan berdaya saing. Pemberdayaan keluarga terhadap pengasuhan keluarga yang benar dalam 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) diharapkan dapat meningkatkan kemampuan keluarga terhadap sadar gizi dengan menerapkan prinsip gizi seimbang dan memberikan stimulai yang tepat baik saat kehamilan sampai anak berusia 2 (dua) tahun yang berkontribusi menciptakan SDM berkualitas.

Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menjelaskan SDM berkualitas juga harus dibarengi dengan kualitas keluarga dalam pemanfaatan teknologi yang saat ini berkembang dengan pesat dan diharapkan keluarga juga dapat memanfaatkan dampak positif dan negatif dari teknologi seperti : (1) kurangnya meluangkan waktu bersama antar anggota keluarga, (2) mudahnya komunikasi, (3) meningkatnya individualisme, (4) Mudah mencari dan sharing informasi, (5) Kurangnya aktifitas fisik, (6) Muncul fenomena “kecanduan” gadget, (7) Muncul fenomena “meniru adegan games”

Pengasuhan yang benar bisa membentuk kualitas seorang anak yang dapat dinilai dari proses tumbuh kembangnya. Proses tumbuh kembang adalah proses yang sangat penting yang merupakan hasil interaksi antara faktor genetik (bawaan) dan faktor lingkungan (hasil pengasuhan), imbuh Hasto. Oleh karena itu, perempuan juga perlu dibekali pendidikan yang baik dalam proses membangun generasi berikutnya maupun bekal dirinya dalam memasuki pasar kerja. Namun, permasalahan lain juga muncul ketika beban ganda yang dipikul perempuan dalam menjalani perannya tidak jarang berakibat pada disharmonisasi kehidupan keluarga, khususnya ketika tidak adanya dukungan pasangan dan anggota keluarga.

Berdasarkan data BPS 2016, kecenderungan angka perceraian di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, yakni meningkat sebesar 25 persen dari tahun 2011 ke tahun 2015, hal ini diindikasi bahwa tidak seimbangnya suami-istri dalam menjalankan peran dalam keluarga. Oleh karena itu, menjadi penting untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan dan mendorong keterlibatan laki-laki sebagai suami untuk bekerja sama atau bermitra dalam menjalankan fungsi, peran dan tanggung jawab di dalam keluarga dengan cara saling membantu, saling melindungi, saling memberi, saling menerima, keterbukaan, berdiskusi dan bersama -sama dalam mencapai tujuan berkeluarga. Berdasarkan data BPS Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SHPN, 2016), menyebutkan bahwa 42.3 persen wanita yang pernah atau sedang menikah mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) berupa pembatasan aktivitas, selebihnya mengalami kekerasan ekonomi, emosional/psikis, fisik, dan seksual.

Terkait hal tersebut diatas, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) bekerjasama menyelenggarakan Seminar dan Workshop dengan tema “Kesetaraan Gender dan Ketahanan Keluarga Menuju SDM Unggul, Indonesia Maju”, bertempat di Auditorium Gedung Widya Graha LIPI, Lantai 2, Jakarta Selatan (14/10/2019).

Hasto berharap, melalui seminar dan workshop ini peserta mendapatkan pemahaman pentingnya peran perempuan dalam meningkatkan SDM yang berkualitas sebagai dampak bonus demografi dan memperoleh pemahaman akan pentingnya kesetaraan gender sebagai pondasi terbangunnya ketahanan keluarga yang kokoh. Hasto juga berharap, semoga peserta pertemuan ini dapat mensosialisasikan kepada khalayak diluar pertemuan dan dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, tutup Hasto. (HUMAS)