Selasa, 13 Juli 2004 @ 07:32:00
HARAP CEMAS PENGOBATAN AIDS
   

Republika
July 12, 2004
Harap Cemas Pengobatan AIDS

Laporan : reiny dwinanda/afp
Ketika infeksi human immunodeficiency virus (HIV) terus melaju, penemuan obatnya justru makin tertinggal. Para ilmuwan sepertinya masih terus berdansa tango dengan virus acquired immune deficiency syndrome (AIDS). Betapa tidak, ketika jumlah infeksi baru makin melonjak, titik terang terhadap pengobatannya justru makin buram. Akankah ada obatnya?
Harapan tentu selalu saja ada. Tetapi, kecemasan warga dunia tetap tidak bisa disembunyikan. Apalagi, penyakit sindrom kehilangan kekebalan tubuh itu sudah lebih dari dua dekade meneror manusia. Selama itu, para ilmuwan terus berupaya menolong mereka yang hidup dengan AIDS. Obat-obatan anti-retroviral sebetulnya cukup menyibukkan virus AIDS hingga melemahkan kekuatannya menggerogoti kekebalan tubuh manusia. Namun, penemuan vaksinnya tetap saja masih jauh dari jangkauan.
Begitu pula dengan penemuan microbicide. Ini adalah krim pelindung yang berfungsi sebagai pembunuh virus AIDS. Microbicide diharapkan dapat memberi jalan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) untuk tetap bisa bersetubuh tanpa menulari pasangannya. Satu-satunya jalan aman bagi ODHA dan pasangannya ialah dengan memakai kondom ketika akan berhubungan badan. Itulah paduan realita yang bakal disajikan dalam Konferensi Internasional tentang AIDS. Akhir pekan ini (11/7) ilmuwan ternama dari seluruh penjuru dunia akan bertemu membicarakan persoalan kesehatan yang paling mengkhawatirkan itu. Pertemuan mereka rencananya berakhir Jumat (16/7) mendatang.
AIDS merupakan penyakit epidemi global alias pandemik yang paling mendapat sorotan saat ini. Baik dari segi medis maupun sosial. ''Akibat bencana yang ditimbulkannya, AIDS menduduki peringkat teratas dalam urutan infeksi penyakit sepanjang sejarah manusia,'' komentar Anthony Fauci dari National Institutes of Health, Amerika Serikat.
Fauci menyayangkan dalam penelitian HIV informasi ilmiah sangat sulit ditemukan. Padahal, penelitiannya sudah berlangsung selama 20 tahun. Sejauh ini, kabar terbaik baru seputar pengenalan obat anti-HIV yang ditemukan satu dekade silam. Obat pertama ialah kombinasi obat anti-retroviral (ARV) yang dikenal sebagai AIDS cocktail. Obat ini berfungsi sebagai pencegah perbanyakan virus setelah virus itu memasuki sel kekebalan tubuh CD4. Pada beberapa pasien, obat ini bisa menekan jumlah virus hingga tidak lagi terdeteksi.
Obat ini hanya berfungsi untuk mengendalikan AIDS, bukan menyembuhkan. Salah satu obat ARV ialah nevirapine. Inilah obat yang dapat memangkas risiko janin terinfeksi AIDS dari ibu pengidap AIDS. Kerja obat ini bersifat temporer. Virus yang bersarang di kelenjar limpa akan meraih kekuatannya kembali begitu obatnya berhenti diminum. Bagi mereka yang tidak mengonsumsi ARV secara teratur, resistensi terhadap ARV pun akan terjadi. Kejadiannya sudah dialami pasien-pasien di Eropa. Sementara itu, di Afrika yang juga kawasan rawan AIDS, ARV sulit didapat.
Temuan lain yang juga menjadi terobosan ialah obat fusion inhibitors. Obat ini diperkenalkan pertama kali tahun 2002. Ia bekerja dengan menghambat jalan virus AIDS memasuki sel. Satu-satunya obat yang berlisensi dalam kategori ini adalah Fuzeon. Keampuhannya cukup baik bagi pasien yang resisten terhadap obat-obatan lain. Tetapi, harganya sangat mahal.
Bagaimana dengan vaksin AIDS? Selama ini, satu-satunya kandidat hanyalah AIDSVAX. Vaksin ini telah menempuh tahap uji coba pada manusia. Ia dibuat untuk memproduksi antibodi sebagai penangkal protein 2gp120 yang ada di permukaan virus. Temuan ini makin memperjelas tingkat kesulitan pencarian antibodi yang dapat secara khusus mengenali HIV di aliran darah dan menandainya untuk dihancurkan. Penelitian pun beralih ke penyempurnaan sel kekebalan tubuh, T-cells, untuk menyerang sel CD4 yang terinfeksi. Cara ini bukanlah pencegahan melainkan penyembuhan.
Salah satu masalah terbesar ialah resep untuk menopang imunitas masih belum diketahui. Tidak ada satu pun manusia yang diketahui memiliki kemampuan memusnahkan serangan HIV. Kalau ada, tentu orang tersebut akan menjadi tambang informasi. Saat ini ada 30 kandidat vaksin yang tengah diuji. Di lain sisi, dana yang dibutuhkan untuk penelitiannya terus melambung. ''Kendalanya sangat luar biasa sementara masalah ini belum dijadikan prioritas politik,'' kata \Chief Executive Officer, International AIDS Vaccine Initiative (IAVI), Seth Berkley.