Logo
images

Nikah Muda

"Banyak calon pasangan yang lebih memikirkan konsep pernikahan dibandingkan kehidupan pasca-pernikahan"

 

Entah dimulai sejak kapan, nikah muda semakin diminati para remaja. Salah satu buktinya, yaitu maraknya unggahan di Instagram dengan tagar #GerakanNikahMuda. 

Ada lebih dari 112 ribu unggahan tentang menikah muda per 31 Agustus 2018. Restu Utami dan Wildanshah merupakan salah satu pasangan yang memilih menikah muda. Sekitar setahun lalu, mereka resmi menjadi suami-istri. Kala itu, usia Restu 24 tahun dan Wildan 28 tahun. 

Sebelum sah menjadi pasangan, ada beberapa tantangan yang harus mereka lewati. "Seperti terbentur dengan tradisi dan melangkahi kakak karena menikah duluan," kata Restu saat ditemui di Hotel Park Lane, Jakarta, baru-baru ini. 

Suka dan duka keduanya hadapi. Ketika sudah menikah, Restu dan Wildan harus sama-sama belajar agar lebih mandiri secara finansial. Untungnya, mereka tak kesulitan ketika harus mengejar impian masing-masing. Sebab sebelum memutuskan menikah, Restu dan Wildan sepakat untuk tidak melepas cita-cita. 

Menurut Restu, walaupun istri harus mengurus suami, suami harus memberi istri kebebasan. "Agar istri dapat terus bereksplorasi dan mengaktualisasi diri," kata dia. 

Keinginan Restu untuk menikah muda sedikit terpengaruh oleh media sosial. Dia berpendapat, Instagram membuat para remaja ingin menikah muda. Menurut Restu, unggahan yang diberikan para influencer memengaruhinya. 

"Contohnya seperti unggahan pernikahan Raisa dan Hamish Daud, mereka menciptakan sebuah Relationship goals," ujar Restu. 

Menurut Restu, unggahan mengenai pernikahan impian di media sosial menimbulkan ekspektasi terlalu tinggi. Ekspektasi tersebut akan memengaruhi kesiapan-kesiapan yang sebenarnya lebih penting dan harus dilakukan sebelum menikah. Misalnya, kesiapan kondisi ekonomi. 

Cukup banyak calon pasangan yang lebih memikirkan konsep pernikahan dibandingkan bagaimana keadaan pascapernikahan. "Menikah harus memiliki kesiapan mental, ego, dan kematangan emosi," ujar Restu. 

Menurut psikolog Roslina Verauli, pernikahan tidak dianjurkan untuk usia remaja. Dalam dunia psikologi, usia remaja dikategorikan sekitar 9 sampai 20 tahun. 

Menikah di atas umur 20 tahun sangat dianjurkan. "Seseorang yang berusia di atas 20 tahun dianggap sudah memiliki kemampuan mengatasi masalah tanpa melibatkan emosi," kata dia. Hal itu merupakan salah satu indikator kesiapan menikah yang dapat mengurangi dampak ketidakbahagiaan dalam pernikahan. 

Sebaliknya seseorang yang masih berumur di bawah 20 tahun disarankan menunda pernikahannya. Sebab, kata Roslina, mayoritas mereka masih berjuang menghadapi krisis identitas diri. Ditambah lagi, mereka masih mengalami masalah dalam lingkaran pertemanan. Pun problem seputar percintaan berujung kegalauan hingga masalah dengan orang tua. 

Menurut dia, semua masalah tersebut dapat berdampak negatif terhadap pernikahan yang akan berujung perceraian. Meski secara psikologis pernikahan dianjurkan ketika seseorang sudah berusia di atas 20 tahun, hal berbeda diatur dalam dalam Undang-Undang Perkawinan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Di dalamnya menyatakan bahwa usia minimal anak menikah adalah 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki. 

Menurut Guru Besar Departemen Ilmu Keluarga IPB Euis Sunarti, kesiapan fisik tanpa diimbangi kematangan mental akan sia-sia. Secara fisik, remaja berumur belasan tahun sudah siap menikah untuk kemudian berhubungan seksual. "Namun, (remaja belasan tahun) tidak siap secara mental, spiritual, emosi, dan sosial. Ini persoalan yang kita hadapi," kata Euis. 

Remaja yang secara fisik merasa siap menikah, tetapi dilarang orang tua dikhawatirkan melakukan seks bebas. Namun, di sisi lain, apabila mereka diperbolehkan untuk menikah, ditakutkan hubungan pernikahannya tidak harmonis. Sebab, mereka belum memenuhi semua indikator kesiapan menikah. 

Untuk itu, kata Euis, peran orang tua sangat diperlukan. Terutama, untuk mendorong anaknya menikah di umur yang tepat agar dapat membangun keluarga berkualitas. 

"Semakin siap dan semakin baik mereka menjalankan tugas keluarga, maka semakin baik perkembangan anak dalam keluarga mereka," kata Euis. 

Di Indonesia, terjadi 40 kasus perceraian perjam. Sebanyak 70 persen di antaranya diajukan oleh perempuan. Menurut dia, ini adalah masalah serius karena perceraian tidak hanya memberi dampak negatif kepada anak, tetapi juga kepada ibu. 

Kasus perceraian tertinggi di Indonesia terjadi di usia 20 sampai 24 tahun. Panjang waktu pernikahan pun tidak sampai lima tahun. "Tinggi angka perceraian diduga karena pernikahan dini yang mana mereka belum siap membina rumah tangga," kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BBKBN) Sigit Priohutomo. 

(Republika, 5 September 2018)