BANDUNG, (PRLM).- Kebijakan dan strategi pengelolaan keluarga berencana (KB), saat ini harus mulai memperhatikan juga kelompok Keluarga Sejahtera II dan III Plus. Kebijakan tersebut diperlukan bila kedua kelompok keluarga itu rentan menambah jumlah anak.
Hal tersebut dikatakan Kepala Subbid Data dan Informasi Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jabar, Syarifudin kepada "PRLM" di Bandung, Senin (20/2/12).
Sebelumnya, Kepala BKKBN dalam rapat kerja nasional kependudukan dan KB tahun 2012 mengatakan Keluarga Sejahtera II keatas harus mulai diperhatikan karena hasil survei menunjukkan pada kelompok tersebut mulai ada kecenderungan memiliki anak lebih dari dua.
"Selama ini prioritas program kependudukan dan KB lebih fokus pada kelompok Keluarga Sejahtera I dan Pra Sejahtera. Kebijakan tersebut diambil karena dikhawatirkan mereka tidak bisa mengakses pelayanan KB disebabkan keterbatasan ekonomi," katanya.
Namun tambah Syarif bila kecenderungan untuk memiliki anak lebih dari dua mulai muncul pada kelompok Keluarga Sejahtera II dan III Plus maka kebijakan program KB harus mulai diarahkan kepada kelompok tersebut. Apalagi jumlah pasangan usia subur pada dua kelompok tersebut banyak sehingga bila "kendor" kemungkinan terjadi pertambahan penduduk dari kedua kelompok tersebut.
"Tentunya akan memberikan kontribusi pada jumlah penduduk di Jabar. Jumlah Keluarga Sejahtera II di Jabar ada 3.440.794 keluarga, sedang Jumlah Keluarga Sejahtera III Plus ada 2.312.203 keluarga. Itu kondisi keluarga berdasarkan kesejahteraan hasil Pendataan Keluarga 2010," paparnya.
Menurut Syarifudin, kedua kelompok tersebut secara ekonomi sudah mampu mengakses pelayanan KB secara mandiri, tanpa harus dibantu pemerintah. Dengan demikian, perhatian lebih diarahkan pada peningkatan pemahaman tentang ketahanan keluarga disangkutkan kepada misalnya pendidikan anak. "Wawasan lebih diperdalam," ungkapnya. (A-62/A-88)***