Navigate Up
Sign In
BKKBN > Berita Daerah > BKKBN Garap Bandung dan Pantura
BKKBN Garap Bandung dan Pantura
Wednesday, February 8, 2012
 

BANDUNG, (PRLM).- Daerah miskin perkotaan Kota Bandung dan pantai utara (pantura) Jabar di tahun 2012 merupakan dua wilayah yang menjadi prioritas Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jabar dalam pelaksanaan program keluarga berencana (KB). Hal ini dilakukan karena selama ini kedua daerah tersebut belum digarap secara khusus.

Hal tersebut dikatakan Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jabar, Ir. Siti Fathonah, MPH., seusai pelantikan eselon III dan IV dilingkungan Perwakilan BKKBN Jabar, di kantornya, Rabu (2/2).

"Sebenarnya untuk pantura dalam kegiatan rutin sudah digarap, namun tidak maksimal," katanya.

Dalam menggarap kedua daerah tersebut kata Fathonah, pihaknya tidak bekerja sendiri, namun bersinergi dengan dinas-dinas terkait lainnya, seperti dinas kesehatan, tenaga kerja, pendidikan dan lainnya. Dengan demikian, pembangunan di daerah tersebut tidak hanya sebatas pelaksanaan program KB, namun akan lebih luas lagi. "Semuanya bersama-sama bekerja dalam membangun daerah tersebut," ungkapnya.

Menurut Fathonah, wilayah pantura merupakan merupakan daerah yang paling banyak dan padat penduduknya. Dengan demikian, meskipun kesertaan berKB di Jabar rata, namun banyaknya jumlah penduduk sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan program KB.

"Selain itu, pantura itu daerahnya sangat heterogen, berbeda dengan wilayah pantai selatan. Pantura itu penduduknya datang dari wilayah di luar Pulau Jawa dengan mata pencaharian sebagai nelayan. Kondisi itu tentunya akan mempengaruhi sikapnya dalam berKB," paparnya.

Fathonah juga mengatakan saat sedang diupayakan agar semua masyarakat mendapatkan pelayanan yang berkualitas dalam pelayanan KB. Wilayah pantura dan pantai selatan meski mendapatkan pelayanan KB, tapi kualitasnya tidak sebaik di kota-kota besar yang ada di Jabar.

"Pelayanan berkualitas ini misalnya jangan sampai terjadi kegagalan pemakaian kontrasepsi, pelayanan KB untuk masyarakat miskin jangan sampai harus membayar mahal. Selain itu, metode yang diinginkan masyarakat harus tersedia," katanya.(A-62/A-26).***