Navigate Up
Sign In
BKKBN > Berita > Tuty Alawiyah, BKKBN Tak Salah Pilih
Tuty Alawiyah, BKKBN Tak Salah Pilih
Wednesday, January 25, 2012
BKKBN – Jakarta - Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Prof Dr Tuty Alawiyah mengatakan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tidak salah pilih bermitra dengan BKMT. Karena, visi misinya sejalan dengan program BKKBN, selain itu organisasi keagamaan dan kemasyarakatan ini berada hingga di pelosok tanah air.
Hal itu disampaikan Tuty Alawiyah dalam acara penandatanganan kerjasama antara BKKBN dengan BKMT di sela-sela Rakernas BKMT di Kampus Universitas As-Syafi’iyah Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (23/1).
Pada saat BKMT berdiri tanggal 1 Januari 1981 memiliki anggota sebanyak 730 majelis taklim, kini anggotanya sudah 11.000 lebih majelis taklim dengan massa sekitar 48.000. "Lebih dari 200 mualaf dari Papua sudah bergabung, bahkan para mualaf ini banyak yang menjadi pengurus majelis taklim," kata mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan ini.
Kegiatan BKMT awalnya bertujuan meningkatkan SDM, merapikan materi pengajaran, dan pemahaman organisasi. Kemudian berkembang di bidang dakwah, kegiatan sosial, peningkatan ekonomi perempuan, dan bidang kesehatan. "BKMT mengutamakan untuk memberdayakan umat dan memperkuat akhlak bangsa. Kami juga memperhatikan pendidikan, pemberdayaan ekonomi keluarga, menuju Indonesia yang bermartabat," kata Tuty.
BKMT juga sudah memiliki koperasi  jemaah, tabungan sejahtera (TAS), dan Perhimpunan Usaha Wanita (Puspita). Oleh karena itu, Tuty yang didukung seluruh pengurus BKMT menyatakan sangatlah tepat BKKBN menggandeng BKMT karena mempunyai misi yang sama dengan BKKBN yakni ingin meningkatkan kualitas penduduk Indonesia dan menyejahterakan rakyat melalui keluarga kecil bahagia sejahtera. "Sebuah ayat menyebutkan khawatirlah kamu, meninggalkan keturunan-keturunan yang lemah," kata Tuty.
 
Peserta Rakernas antusias

Peserta Rakernas BKMT sangat antusias menanggapi paparan Kepala BKKBN Sugiri Syarif tentang kondisi dan tantangan masalah kependudukan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Berbagai pertanyaan dan permintaan pun disampaikan peserta Rakernas. Bahkan Kepala BKKBN pun diundang langsung untuk menghadiri peringatan HUT BKMT Banten sekaligus memberikan pencerahan soal kependudukan dan KB di sana.
Peserta dari Nusa Tenggara Barat mempertanyakan kepesertaan KB pria dan ingin mengembangkan PIK Remaja di wilayahnya. Ada juga yang masih meragukan soal  efek samping KB suntik, pil, dan implant.
Sugiri menyakinkan, semua obat dan alat kontrasepsi sudah diuji coba melalui penelitian yang panjang dan sudah mendapatkan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan, sehingga obat KB yang mengandung hormonal sangat kecil sekali kemungkinan menimbulkan efek samping. (kkb-2)