BKKBN –
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menargetkan
contraceptive prevalence rate (CPR) atau angka pemakaian kontrasepsi menjadi
sebesar 62,5 persen pada tahun 2012.
Oleh karenanya, akses dan kualitas pelayanan KB bagi peserta KB baru
sebesar 7,3 juta harus ditingkatkan.
Metoda kontrasepsi juga perlu diarahkan
agar akseptor menggunakan metoda kontrasepsi jangka panjang (MKJP) minimal
sebesar 12,9 persen dan mendorong para pria ber-KB hingga menjadi 4,3 persen
kepesertaannya. Dengan target-target dalam RKP (Rencana Kerja Pemerintah) itu,
maka akan meningkatkan jumlah peserta KB aktif sebanyak 28,2 juta dengan MKJP
sebesar 25,9 persen.
“Untuk mencapai itu, antara lain kita
harus fokus pada pelayanan KB MKJP dan meningkatkan kualitas layanan perserta
KB baru,” kata Kepala BKKBN Dr dr Sugiri Syarief, MPA di Jakarta, Selasa
(14/2).
Sugiri mengatakan, kerjasama dengan
Kementerian Kesehatan RI agar pelayanan KB dapat memanfaatkan program Jaminan
Kesehatan Masyarakat Miskin (Jamkesmas), program Jaminan Persalinan
(Jampersal), dan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) yang disediakan oleh
pemerintah daerah.
“Saya minta BKKBN perwakilan provinsi,
SKPDKB provinsi dan SKPDKB kabupaten/kota
segera melakukan langkah operasional yang konkrit dan berkesinambungan
terutama meningkatkan KIE dan member pengayoman kepada peserta KB yang
mengalami keluhan sehingga kita dapat mencetah angka drop out,” kata Sugiri.
Untuk menjaga kelestarian peserta KB,
perlu dilakukan pembinaan peserta KB aktif secara intensif. Caranya dengan
menggerakkan kelompok-kelompok kegiatan seperti Bina Keluarga Balita, Bina
keluarga Remaja, dan kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera, dan
Posyandu. “Kita juga akan membentuk Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera di
setiap provinsi dan akan dikembangkan di setiap kota/kabupaten sebagai model
pemberdayaan keluarga yang bisa menjadi tempat rujukan.” Kata Sugiri.(kkb2)