JAKARTA (Pos Kota) – Ledakan penduduk Indonesia yang kini mencapai 242 juta jiwa merupakan tanggung jawab semua pihak, baik pemerintah, masyarakat dan swasta.
“Tokoh lintas agama juga memegang peranan penting untuk lebih memperhatikan isu-isu kependudukan dalam pembinaan umat di komunitas masing-masing,” kata Freddy Aritonang, Kabid Advokasi dan Pengembangan Komunikasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Rabu (16/11), dalam Diskusi Tokoh Lintas Agama bertajuk ‘Ledakan Penduduk Tanggung Jawab Siapa?, di Jakarta.
Sosiolog Imam B Prasodjo menambahkan, pola kependudukan Indonesia kini berbeda. Dulu, banyak yang lahir, banyak juga yang meninggal. Sekarang, banyak yang lahir, tapi sedikit yang meninggal. Ini yang membuat jumlah penduduk jadi ‘meledak’.
“Berbeda dengan negara maju. Banyak yang lahir tapi dibarengi dengan banyaknya jumlah orang yang meninggal,” katanya sambil menunjuk grafik perkembangan jumlah penduduk dunia.
Yang menjadi persoalan ketika jumlah penduduk ini disumbang oleh ‘masyarakat miskin’ yang melahirkan keturunan yang ‘kualitasnya’ juga dipertanyakan. Jika ini tidak dibenahi, entah apa jadinya negeri ini.
“Laju pertumbuhan penduduk negeri ini telah sampai pada titik amat mengkhawatirkan,” tukasnya.
Jika laju pertambahan penduduk yang rata-rata 3,5 juta-4 juta per tahun tidak segera ditekan, diprediksi pada 2045 jumlah penduduk Indonesia mencapai 450 juta jiwa. Dengan asumsi populasi bumi 9 miliar jiwa pada saat itu, berarti 1 dari 20 penduduk dunia adalah orang Indonesia.
Pertumbuhan penduduk yang tinggi ini tidak disertai dengan peningkatan kualitas karena banyak penduduk Indonesia yang tidak mendapat pendidikan. Itu terlihat dari indeks pembangunan manusia Indonesia yang merosot gara-gara indikator kemajuan pendidikan kita di mata UNDP menurun.
Apa yang terjadi dengan Indonesia pada 2045, ketika 1 dari 20 penduduk dunia adalah orang Indonesia? Jawabnya Indonesia akan menjadi negeri kelaparan.
Karenanya, Kholil Nafis, tokoh agama Islam dari PBNU, yang membuka diskusi itu, mengajak semua pihak untuk jihad. Jihad bukan untuk berani mati, melainkan berani hidup. “Spirit keagamaan yang harus kita bangun demi kesejahteraan keluarga,” tambahnya. (aby/b)