JAKARTA -- Bagi Eduard Depari sosialisasi mengenai HIV/AIDS caranya sudah benar, tetapi pesannya kurang strategis. Kalau berbicara mengenai komunikasi, katanya, berarti berbicara mengenai media, siapa yang menyampaikan, dan pesan.
”Media mungkin sudah tepat. Khalayak sasaran bisa jadi juga sudah tepat. Soal sasaran perlu diberikan pentingnya penekanan, dan prioritas ke daerah-daerah yang rentan terhadap HIV/AIDS,” katanyan ketika ditemui di ’markas’ Royston Advisory Indonesia UOB Plaza, Jalan MH Thamrin, Jakarta, pekan lalu.
Di ruang kantor model minimalis, Eduard Depari menambahkan selain yang dikemukakan, mengenai komunikatornya juga sudah cukup baik, yakni mereka yang memiliki kredibilitas termasuk pemerintah.
”Cuma masalahnya apakah pesannya termasuk strategis. Karena begini. HIV/AIDS ini bukannya sesuatu yang bisa kita samakan penyakit seperti malaria, demam berdarah dan sebaianya dalam hal penyebaran dan dampaknya,” kata pakar komunikasi ini.
Alasannya? ”Ya, karena, utamanya AIDS itu kan sama dengan sesuatu yang fatal, juga menyangkut generasi. Saya sebut pesannya kurang strategis karena penyampaiannya atau penyebarluasannya harus melalui pendekatan rasa takut. Ini yang kurang,” kilahnya.
Orang atau masyarakat mungkin tahu, tapi belum tentu sadar. Lain antara tahu dan sadar mengenai dampak AIDS ini. Apakah mereka sadar akan potensi penyebarannya yang bisa-bisa indiskriminatif.
Artinya, anak-anak yang belum mengenal seks bisa terkena. Bayi merah yang belum berdosa juga bisa terkena. Jadi hal semacam inilah kenyataannya. Apalagi bagi masyarakat Indonesia yang relatif tingkat pendidikan umumnya belum terlalu tinggi.
Pendekatan rasa takut itu menurutnya menjadi sesuatu yang mutlak. Dan Eduard pun memberikan analogi. Kalau menyampaikan soal penyakit gila anjing (rabies) misalnya, harus digambarkan secara visual penderitaan orang yang terkena rabies. Ini harus dijelaskan lewat kampanye soal indikasi dan akibat fatalnya kalau terlambat menangani dampak rabies.
”AIDS juga begitu. Kita gambarkan bagaimana bahaya dan dampak akibat AIDS, sehingga orang itu menjadi jera tanpa harus mengalami. Celakanya sekarang sering sekali baru menyadari bahayanya kalau orang dekat atau yang kita kenal mengalami. Ini bisa dicegah kalau mau belajar dari pengalaman orang lain.”
Justru testimoni dari orang-orang yang mengalami ini, menurut dia, harus diceritakan dan kalau perlu divisualkan melalui televisi. (H)