BkkbnOnline BATAM: Kepala BKKBN Dr dr Sugiri Syarief MPA mengemukakan melihat kondisi dan permasalahan yang dihadapi program kependudukan dan keluarga berencana (KKB), revitalisasi program ini tidak bisa ditawar0tawar lagi.
Hal itu dikemukakan pada pidato pembukaan seminar sekaligus Rakernas Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) 2011 di Batam, Kepri, Kamis (8/12) malam. Rakernas dan seminar yang berlangsung empat hari ini diikuti oleh pengurus IPKB daerah dan pejabat perwakilan BKKBN provinsi seluruh Indonesia.
Menurut Sugiri, kondisi kependudukan yang masih memperihatinkan, diiringi dengan perubahan kondisi sosial, ekonomi, dan dan politik yang sangat dinasmis dewasa ini, menjadi dasar pijakan dalam melalsanakan revitalisasi program KKB.
"Saat ibni kita berpacu dengan waktu. Tidak mungkin berharap kualitas penduduk akan lebih baik tanpa mengendalikan kuantitasnya. Upaya pengendalian jumlah penduduk merupakan masalah yang haruys segera ditangani denbgan serius oleh pihak-pihak yang terkait," katanya.
Jumlah penduduk yang banyak diibaratkan oleh Sugiri sebagai pisau bermata dua, karena bisa berdampak positif maupun negatif. Dampak positif didapatkan apabila kualitas sumberdaya manusia (SDM) baik karena merupakan aset berharga dalam melaksanakan pembangunan.
"Sebaliknya kualitas SDM yang buruk justru akan menjadi beban bagi masyarakat dan negara," katanya.
ia mengingatkan dengan pertumbuhan penduduk 1,49% per tahun, jumlah penduduk Indonesia pada 45-50 tahun mendatang diperkirakan akan berlipat dua menjadi 474 juta jiwa dan dalam satu abad menjdi hampir satu miliar orang.
Jumlah pendudujk sebesar itu menjadi ancaman luar biasa bagi ketersediaan pangan.
Selain itu, pemerintah juga akan mengalami kesulitan besar dalam memenuhi kebutuhan dasar penduduk, yakni pangan, lapangan kerja, infra setruktur, pelayanan kesehatan dan pendidikan.
Kekhawatiran ini tidak harus berlanjut dan hanya menjadi wacana semata, melainkan memerlukan langkah nyata yang harus dilakukan oleh semua komponen bangsa.
"Oleh karena itu saya kembali mengetuk hati teman-teman yang berada di jajaran media. Saya yakin betul teman-teman media mempunyai pengaruh sangat besar dan kuat serta daya dorong yangn dahsyat dalam mengajak dan meng etuk hati segenap komponen bangsa untuk mengatasi persoalan kependudukan dan KB ini," tambahnya.
Mungkin perlu juga ditambahkan di sini pendapat Menteri Kesehatan/Kepala BKKBN pertama dr Soewardjono Suryaningrat mengenai IPKB dalam buku 'Mengabdi Tugas Kemanusiaan' di halaman 91 dan 92.
Beliau mengemukakan, "Kiranya yang sangat penting dan tidak boleh dilupakan dalam kampanye masal program KB adalah peran media massa.
"Untuk mengoptimalkan peran pers dalam menjalankan penerangan KB melalui surat kabar, majalah, dan media lainnya dibentuk wadah Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) yang beranggotakan pada umumnya terdiri dari para wartawan dan penulis.
"Peran wartawan dan penulis itu penting. Teman-teman wartawan mempunyai peran dalam menyukseskan program KB nasional. Ini harus diakui. IPKB yang lahir beberapa tahun setelah lahirnya BKKBN jangan diabaikan." (H)