BKKBN - Jakarta -Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr dr Sugiri Syariefn MPA, mengatakan Program KB bukan hanya urusan memakai alat kontrasepsi saja, tetapi mempunyai tujuan menyejahterakan keluarga. Program KB ada tiga unsur yaitu kesehatan, pendidikan, dan ekonomi keluarga.
Dari sisi kesehatan, setiap ibu melahirkan mempunyai risiko kematian. "Sekarang ada Jampersal. Jadi, setelah melahirkan langsung ikut ber-KB," kata Sugiri di Jakarta, Rabu (2/2/2012)
Soal jumlah anak, juga berakitan erat dengan pemenuhan gizi anak, terutama dalam keluarga kurang mampu. "Sel-sel otak dibangun dengan gizi sejak dalam kandungan sampai usia 5 tahun. Jika gizi terpenuhi maka sel-sel otak semakin banyak dan semakin cerdas," ungkapnya.
Terkait pendidikan, program KB yang mengatur yang jarak kelahiran anak 5 tahun, dapat memberi dapat memberi kesempatan kepada setiap anak dapat berpartisipasi bersekolah. "Sementara melalui Bina Keluarga Balita, ibu dari anak balita iti diberi pengetahuan soal tumbuh kembang anak. Jika ada kelainan pada anaknya segera dirujuk di Puskesmas," kata Sugiri.
Dari sisi eknonomi, keluarga kecil akan lebih menghemat pengeluaran atau "saving money" nya lebih banyak.
Sugiri menegaskan kembali ikut program KB, maka keluarga lebih sejahtera. Oleh karenanya, anak-anak muda diajak ikut dalam kegiatan PIK (Pusat Informasi dan Konselin) Remaja, agar mengerti soal program KB. "Mereka akan menikah minimal pada usia 20 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki dan seterusnya berkeluarga dengan rencana," ujarnya.
Sugiri mengajak seluruh masyarakat membantu pemerintah dalam mengatasi problema kependudukan di Indonesia. Kualitas penduduk Indonesia masih rendah bahkan Indonesia hanya mampu mengirimkan tenaga-tenaga kerja sebagai pembantu.
"Ini persoalan kependudukan, kita harus peduli. Memang harus kita akui, sudah banyak orang Indonesia yang reputasinya Internasional. Ada juga anak-anak Indonesia berprestasi, tapi hanya segelintir penduduk Indonesia," kata Sugiri.(kkb2)