Navigate Up
Sign In
BKKBN > Berita > Penduduk Indonesia Setiap Hari Tambah 10.000 Jiwa
Penduduk Indonesia Setiap Hari Tambah 10.000 Jiwa
Friday, November 4, 2011
Jumat, 4 November 2011
BOGOR (Suara Karya): Melemahnya penggarapan program kependudukan dan keluarga berencana (KB) di era otonomi daerah ternyata menimbulkan dampak yang sangat besar bagi perkembangan kependudukan dan KB di Indonesia. Hasil Sensus Penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia mencapai 237,6 juta jiwa, melampaui angka proyeksi yang "hanya" 234 juta jiwa.
Laju pertumbuhan penduduk naik dari 1,47% per tahun antara 1990-2000 menjadi 1,49% per tahun pada periode 2000-2010. "Ini berarti terjadi pertambahan jumlah penduduk sebanyak 3-4 juta jiwa setiap tahun atau 10.000 bayi lahir setiap hari," ucap Pelaksana Harian Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sudibyo Alimoeso, ketika membuka workshop bagi wartawan kependudukan dan KB, di Bogor, Rabu (2/11).
Menurut Sudibyo, jumlah penduduk yang sangat banyak ini akan memberikan implikasi terhadap ketersediaan berbagai kebutuhan hidup, yang pada gilirannya akan memberikan pengaruh terhadap kehidupan bermasyarakat.
Celakanya, lanjut Sudibyo, data hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 membuktikan bahwa kelahi
ran pada keluarga yang kurang mampu lebih banyak dibanding dengan keluarga mampu dan berpendidikan.
Pada keluarga yang kurang mampu angka total fertilitas rate (TFR) tiga anak per wanita sedangkan pada keluarga mampu TFR-nya hanya 2,3 per wanita. Ini berarti tanggungan yang berat tidak hanya menjadi beban masyarakat yang miskin tetapi juga beban pemerintah. Sebab persoalan bagi keluarga miskin berkaitan erat dengan kemampuan mereka mengakses pelayanan kesehatan dan pendidikan.
Hal ini, kata Sudibyo, akan menambah angka kemiskinan yang bukan sekadar miskin tetapi juga tidak sejahtera sehingga membawa resiko negatif yang harus ditanggung masyarakat luas dan pemerintah.
Menyadari kondisi dan berbagai permasalahan program kependudukan dan KB tersebut, maka revitalisasi program kependudukan dan KB yang telah dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menjadi tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Kondisi kependudukan Indonesia saat ini yang masih memprihatinkan diiringi dengan perubahan kondisi sosial, ekonomi dan politik, menjadi dasar pijakan dalam melaksanakan revitalisasi program kependudukan dan KB. "Jumlah penduduk yang banyak ibarat pisau bermata dua karena bisa berdampak positif atau negatif," ucap Sudibyo yang sehari-hari menjabat sebagai Sekretaris Utuma (Sestama) BKKBN.
Dengan laju pertumbuhan penduduk, lanjut Sudibyo, 1,49% per tahun, jumlah penduduk Indonesia pada 45-50 tahun yang akan datang diperkirakan akan berlipat dua menjadi 474 juta jiwa dan dalam 100 tahun yang akan datang menjadi 1 miliar jiwa. (Singgih BS)