JAKARTA -- "Anak-anak remaja atuapun generasi muda sekarang memang lain dengan yang seperti kita alami dulu. Tidak seperti kita dulu, daya juang beda, lingkungan beda. Jadi sesuai dengan jamannya. Tetapi secara umum menurut saya masih baik.”
Itulah pendapat Ny Hanum AY Nasution, isteri Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letnan Jenderal TNI AY Nasution.
Ditemui wartawan bkkbn.go.id di Kompleks Rumah Dinas Perwira Tinggi TNI AD kawasan Jl Gatot Subroto, Jakarta; belum lama ini; ibu dua anak (keduanya putri) ini menjelaskan panjang lebar mengenai program KB, dan pendapatnya soal pendidikan karakter bangsa
“Saya sudah 30 tahun sampai sekarang tetap mengkampanyekan program KB, lho ... ” tambah ibu berjilbab ini.
Ketua Persatuan Isteri Tentara (Persit) Kartika Chandra Kirana (KCK) Gabungan Kostrad ini mengemukakan, peran kaum ibu utamanya adalah menyiapkan generasi muda yang berkarakter.
"Ibu itu adalah pendidik pertama dan utama untuk menyiapkan generasi penerus, yakni sejak masih di kandungan, kemudian lahir, menjadi anak-anak, remaja dan dewasa," tambahnya.
"Jadi menurut saya, memang bukan anaknya saja yang dididik, ibunya atau orangtuanya juga harus perlu mendapatkan pendidikan. Bagaimana anak berkarakter kalau ibunya sendiri tidak tahu dan tidak berpendidikan soal karakter. Jelas ada pengaruhnya."
Berkarakter menurut hematnya pasti harus dibarengi dengan disiplin. "Tanpa disiplin bagaimana bisa berkarakter. Kemudian tanggung jawab, terhadap diri sendirin kemudian kepada orang lain. Keduanya perlu diramu dengan iman."
Mengenai disiplin, Ny Hanum memberikan ilustrasi. Bukan sekadar misalnya pukul tujuh pagi harus sudah berangkat ke sekolah. Tetapi di sebelumnya harus ada disiplin lain, sebut saja harus mempersiapkan buku, ke belakang lagi tidur cukup dan tidak telat bangun.
"Kalau sudah bisa mendisiplinkan diri sendiri, giliran mendisiplinkan lingkungan. Kalau sudah disiplin pasti bertanggung jawab dan itu dibarengi dengan iman."
Mengenai semangat gotong royong atau kebersamaan, dia mengakui masih tetap ada. Dia mencontohkan saat ada pertandingan sepakbola. Para penonton akan memberikan dukungan secara bersama kepada kesebelasan kesukaannya.
"Memang hanya saja momennya tidak seperti dahulu. Tidak banyak lagi kesempatan untuk nenunjukkan sikap kegotongroyongan tersebut."
"Dan semua itu juga harus menjadi tanggung jawab orangtua untuk selalu menumbuhkan rasa kebanggaan. Soal sopan santun dan tatakrama? Ya itu saya sebutkan tergantung dengan sikap orangtua juga, khususnya kaum ibu. Coba lihat sekitar, bagaimana tingkah mereka? Gimana wong tiap hari di koran atau di televisi banyak berita ibu-ibu yang tidak benar. Jadi peran media di era keterbukaan ini juga sangat penting. Dan juga harus bertanggung jawab.”
"Terlebih lagi bila kemudian di rumah anak-anak tidak mendapatkan pendidikkan sopan santun. Saya mengalami sendiri, banyak ibu-ibu yang kesehariannya kurang pantas. Lha kalau orangtua sudah demikian, bagaimana anak-anaknya, atau anak-anak muda pada umumnya. Jadi jangan hanya bisa menyalahkan anak-anak, orangtuanya juga harus mawas diri," tutur ibu berusia 53 tahun ini. (O)