JAKARTA: Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk MDGs Dr dr Nila Djuwita Farid Moeloek menginagtkan kepada semua pihak agar hati-hati dan berpikir ulang bila terpaksa akan melakukan hubungan seks bebas.
"Hati-hati dengan perilaku seks bebas. Kalau terpaksa .. ini saya tidak menganjurkan seks bebas, lho ... pakailah kondom," katanya di Kantor Kemenko Kesra, Jakarta Kamis (15/12) sore.
Di Kemenko Kesra Kamis sore digelar Rapat Konsultasi Publik Nasional IKraR yang dihadiri para pejabat mulai dari wakil gubernur maupun utusan dari kementerian/lembaga pusat. Rapat konsultasi dipimpin oleh Sekretaris Kemenko Kesra Indroyono Soesilo.
Menurut Nila pengidap HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome) sulit untuk dikurangi. Bahkan cenderung meningkat karena banyak orang yang memeriksakan diri dan ketahuan sebagai pengidap HIV/AUDS.
Dalam hal ini peran keluarga sangat domian, sehingga diperlukan suatu ketahanan keluarga untuk menanggulangi penyakit tersebut.
"Kita membutuhkan ketahanan keluarga yag kuat yang terbungkus kaidah-kaidah moral," katanya.
"Bahkan di Aceh pun, yang disebut sebagai Serambi Mekah ada juga pengidap HIV/AIDS. Saya lihat ada waria di teleisi yang ngaco. WEah, ini pastri ada HIV/AIDSnya," tutur Ketua Umum Pimpinan Pusat Dharma Wanita Persatuan ini.
Sementara itu salah seorang pejabat dari Aceh yang mengikuti rapatr konsultasi publiok tersebutmembenarkan pernytaan Nila. "Ada sekitar seratus kasus," celetuknya.
Empat meninggal
Dari Banda Aceh diperolehb berita empat dari lima penderita Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) yang menjalani perawatan di Kota Banda Aceh selama periode 2011 telah meninggal dunia.
“Sudah empat orang penderita HIV/AIDS yang meninggal dunia selama 2011, sementara satu orang lagi masih dalam pengobatan,” kata Wali Kota Banda Aceh Mawardy Nurdin di Banda Aceh, belum lama ini.
Didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh Media Yulizar seusai menobatkan duta HIV/AIDS ditingkat pelajar SMA di Taman Sari, ia mengatakan jumlah penderita penyakit menular itu setiap tahun mengalami peningkatan.
“Saya perkirakan masih ada warga kita yang positif terjangkit penyakit HIV/AIDS, apalagi kesadaran untuk memeriksa kesehatan masih tergolong rendah,” katanya.
Menurutnya, selama ini mayoritas penderita HIV/AIDS di provinsi paling ujung barat pulau Sumatera itu terdeteksi dengan cara tidak sengaja seperti saat pemeriksaan darah.
“Kami terus berupaya memberikan sosialisasi dan menyediakan tempat konsultasi khusus di beberapa Puskesmas bagi warga yang ingin mengetahui lebih jauh tentang bahaya penyakit tersebut, kami akan menjalami kerahasiaanya,” kata Mawardy Nurdin.
Menurutnya, penyebab dominan HIV/AIDS di Aceh karena hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan dan jarum suntik narkoba.
“Penyebaran virus HIV/AIDS sejak 2004 hingga saat ini semakin mengkhawatirkan. Penyakit berbahaya itu menyerang segala usia dan tidak memandang kelas sosial masyarakat, makanya kita harus waspada,” tambahnya. (H)