Navigate Up
Sign In
BKKBN > Berita > Kepala BKKBN, Perubahan Mindset belum Berhasil
Kepala BKKBN, Perubahan Mindset belum Berhasil
Monday, January 2, 2012
Bkkbn Online JAKARTA -- Begitu dilantik menjadi Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada  26 November 2006, dalam benaknya muncul keinginan untuk segera membenahi lembaga yang dipimpinnya tersebut.
 
“Ada tiga hal perlu segera saya lakukan, yakni perubahan mindset,  perubahan manajemen program dan strategi program.  Yang belum selesai perubahan mindset,” tutur Dr dr Sugiri Syarief  yang pada 27 September 2011 dikukuhkan menjadi Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
 
Harus diakui bahwa BKKBN ‘dulu’ bisa dikatakan sebagai lembaga ‘yang selangkah lebih maju’ katimbang banyak lembaga milik pemerintah lainnya.
 
Namun saat Sugiri kembali lagi ke BKKBN setelah sekitar 30 bulan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  istilah ‘selangklah lebih maju’ tidak ditemui lagi.
 
Wajah BKKBN dengan ‘kru’ yang moderen dan tanggap dalam menghadapi perubahan tidak nampak lagi. Dan Sugiri pun tetap berusaha untuk membawa keluarga besar BKKBN menjadi moderen. Namun upayanya tak semudah membalikkan telapak tangan, karena sudah banyak yang merasa mapan dan nyaman sehingga tidak mempan lagi bila diajak ke arah perubahan.
 
Sugiri pun menyatakan agak kecewa karena ajakan dan harapannya ternyata belum mendapatkan hasil optimal. “Banyak hal yang tak berjalan sesuai dengan harapan saya. Apakah saya harus frustasi, dengan sendirinya tidak. Kalau saya frustasi apa kejadiannya. Untuk itu saya mencari cara lain. Namun hasilnya setelah 3-4 tahun terakhir juga belum memuaskan. Mau saya sebelum ayam jantan berkokoh pada saat fajar 1 Januari 2012 sudah bisa berjalan.”
 
 
Lantas Sugiri pun bertanya. “Apa ada yang salah, ya?  Apakah saya salah mengucapkan sehingga susah dipahami oleh teman-teman? Atau mungkin teman-teman BKKBN sendiri yang tidak bisa memahami saya?  Ini merupakan hal yang menjadi seperti ganjalan di hati. Padahal saya berpikir itu sebenarnya hal mudah. Memang mungkin tidak pas-pas banget.”  (O)