Navigate Up
Sign In
BKKBN > Berita > Kematian Ibu Melahirkan di Indonesia Masih Tinggi
Kematian Ibu Melahirkan di Indonesia Masih Tinggi
Friday, February 3, 2012
BANDUNG, (PRLM).- Setiap satu jam, dua ibu melahirkan meninggal dunia. Tingkat kematian ibu saat melahirkan di Indonesia masih tinggi. Dilihat berdasarkan propinsi di Indonesia, jumlah kematian ibu diperkirakan mencapai 11.534 di tahun 2010.

Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2007 memperlihatkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia saat ini 228 per 100.000 kelahiran hidup. Sedang angka kematian bayi sebesar 34 per 1000 kelahiran hidup.

Sementara itu, hasil Sensus Indonesia 2010 menunjukkan laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,49 persen per tahun. Kondisi ini mempersulit upaya menekan AKI di Indonesia. Untuk itu, upaya besar dalam menekan laju pertambahan penduduk sangat diperlukan dengan harapan target MDGs (Millenium Development Goals) untuk menurunkan AKI pada tahun 2015 menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup menjadi kenyataan. Hal tersebut terungkap dalam pembukaan pertemuan evaluasi penggarapan KB Kepulauan tahun 2011 tingkat nasional di Bandung, Rabu (1/2) malam.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr. dr. Sugiri Syarief, MPA., menuturkan penyebab langsung kematian ibu di Indonesia kebanyakan disebabkan pendarahan, hipertensi saat kehamilan dan infeksi. Sedang penyebab tidak langsung kematian ibu di Indonesia karena usia yang terlalu muda, usia terlalu tua saat melahirkan, terlalu sering melahirkan serta terlalu banyak anak yang dilahirkan.

"Atau sering disebut dengan istilah empat terlalu. Tiga penyebab lain yang menjadi penyebab kematian ibu adalah terlambat mengambil keputusan, terlambat membawa ke tempat pelayanan dan terlambat memberikan pertolongan di tempat pelayanan," katanya.

Salah satu program strategis untuk menekan angka kematian ibu melahirkan di Indonesia dapat dilakukan melalui program keluarga berencana (KB). Revitalisasi program KB dinilai dapat mengatasi kematian ibu. "Yang harus dilakukan segera adalah menghidupkan kembali infrastruktur penunjang program KB di daerah. Salah satunya melalui pos KB di daerah. Selain itu, perlu menghidupkan kembali fungsi petugas lapangan KB (PLKB). Pemerintah juga telah menggulirkan program jaminan persalinan (Jampersal)yang meliputi paket layanan mulai dari konsultasi kehamilan, persalinan hingga pemilihan alat KB," papar Sugiri yang pada kesempatan tersebut mendapatkan sertifikat Champion dari White Ribbon Alliance (WRA) Global dan Aliansi Pita Putih Indonesia.

Untuk menurunkan angka kematian ibu, persalinan harus ditolong oleh tenaga medis dan dilakukan di sarana pelayanan kesehatan. Kehamilan sebaiknya direncanakan dengan berKB dan hal ini merupakan tanggung jawab bersama. Salah satu organisasi dunia yang memperhatikan masalah ini adalah The White Ribbon Aliance for Safe Motherhood atau dikenal dengan APPI.(A-62/A-147)***