Navigate Up
Sign In
BKKBN > Berita > Jumlah Dokter Anak Minim, Sebaran tak Merata
Jumlah Dokter Anak Minim, Sebaran tak Merata
Monday, January 9, 2012
JAKARTA --  Pemerintah membuka lowongan dokter sebagai pegawai tidak
tetap di puskesmas terpencil di 36 kabupaten di delapan provinsi untuk
mengatasi kekurangan dokter di daerah terpencil. Namun, lowongan itu
sepi peminat.
”Selain daerahnya sulit dan terpencil, pemerintah daerah juga enggan
memberikan insentif tambahan bagi para dokter,” kata Kepala Biro
Kepegawaian Kementerian Kesehatan Pattiselanno Roberth Johan, Jumat
(6/1), di Jakarta.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)  menyebut, rasio
dokter per penduduk di Jawa dan luar Jawa hampir sama, 18,5 dan 18,1.
Dokter di Jawa menghadapi masalah besarnya jumlah penduduk yang
ditangani, sedangkan dokter di luar Jawa menghadapi luasnya wilayah,
penduduk terpencar-pencar, dan medan yang relatif lebih sulit.
Kesenjangan ini membuat 25 persen puskesmas tidak memiliki dokter.
Banyak rumah sakit di luar Jawa tidak memiliki dokter spesialis.
”Masalah tenaga kesehatan di Indonesia bukan hanya jumlah, tetapi juga
distribusi,” kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dalam
Evaluasi Kinerja 2011 dan Program Prioritas 2012, Rabu.
Sementara itu menurut data Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI) jumlah dokter spesialis anak di Indonesia minim, yakni 2.700
orang. Sebarannya juga tidak merata.
Dengan hitungan satu dokter spesialis melayani 10.000 anak, Indonesia
saat ini perlu sekitar 8.000 dokter spesialis anak. Saat ini yang ada
baru sekitar 2.700 orang.
Daerah dengan sebaran dokter spesialis anak terbanyak adalah Jakarta,
yakni 670 orang, Jawa Barat 312 orang, Jawa Timur 283 orang, Jawa
Tengah 222 orang, dan Sumatera Utara 142 orang. Adapun daerah lain,
seperti Jambi dan Kalimantan Barat, jumlah dokter anaknya hanya
belasan orang.
Di sisi lain, kemampuan institusi pendidikan di Indonesia untuk
meluluskan dokter spesialis anak masih minim, 100-150 orang per tahun.
Oleh karena itu, IDAI perlu menggandeng orang untuk bersama-sama
meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak, yakni dokter umum,
bidan, dan perawat.
Kerja sama dengan dokter umum, bidan, serta perawat dinilai efektif
karena keberadaan dan sebaran mereka relatif lebih banyak, hingga
menjangkau pelosok.
Ketua IDAI Cabang Banten Mahruzzaman Na’im mengatakan, masalah yang
umum dihadapi bayi dan anak balita di Banten adalah infeksi saluran
pernapasan akut dan diare.  (koO)