JAKARTA -- Ketika duduk di bangku sekolah menengah kejuruan bagian administrasi, Tria (21) bermimpi bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, penghasilan tidak tetap ayahnya membuat warga Kelurahan Bintaro, Jakarta Selatan, ini mengandaskan mimpinya.
Tria kini bekerja menjaga toko mebel di kawasan Senayan, Jakarta. Untuk kerja delapan jam sehari dan libur sekali seminggu, dia menerima upah Rp 900.000 per bulan, jauh lebih rendah dari upah minumum 2011 Jakarta yang Rp 1,29 juta.
”Katimbang nganggur di rumah,” kata Tria belum lama ini.
Dia adalah bagian dari 120 juta orang angkatan kerja Indonesia saat ini. Hanya karena tak punya banyak pilihan, pekerjaan itu dia ambil.
Dalam hitungan ekonomi nasional, penduduk usia muda 15-29 tahun yang bekerja adalah pendongkrak peningkatan pendapatan per kapita.
Mereka menjadi bagian transisi demografi Indonesia karena perubahan struktur umur penduduk dan jenis kelamin akibat menurunnya angka kelahiran dan angka kematian bayi, serta meningkatnya usia harapan hidup terus-menerus dalam 30 tahun terakhir.
Meneropong Indonesia 2025, salah satu keuntungan negeri ini adalah bonus demografi (demographic dividend) karena perubahan struktur umur penduduk dan menurunnya rasio ketergantung berdasarkan umur (age dependency ratio), yaitu perbandingan antara jumlah penduduk anak-anak (di bawah usia 15 tahun) dan penduduk lansia (di atas 65 tahun) terhadap populasi usia kerja (15-64 tahun). (H)