Navigate Up
Sign In
BKKBN > Berita > BKKBN, Dampak Program KB Tak Seperti Makan Cabe
BKKBN, Dampak Program KB Tak Seperti Makan Cabe
Friday, December 9, 2011
(Oke Zone) BATAM - Pengendalian laju pertumbuhan penduduk di Indonesia terus dilakukan. Salah satunya dengan mendorong program-program kependudukan dan Keluarga berencana.
 
Tapi, diakui Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Sugiri Syarief program-program keluarga berencana yang selama ini dilakukan BKKBN tidaklah bisa langsung dirasakan.
 
"Program-program kependudukan dan KB adalah program investasi masa depan, dampak dari program KB baru akan terasa dalam kurun waktu puluhan tahun yang akan datang, tidak seperti makan cabe yang langsung terasa pedasnya begitu menyentuh bibir kita, "kata Sugiri di di acara Rapat Kerja Nasional Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) di Batam, Kepulauan Riau, Kamis (8/12/2011).
 
Dikatakan Sugiri, sejak awal otonomi daerah digulirkan, program kependudukan dan KB di Indonesia sempat melemah. Seringkali didengar bahwa program Kependudukan dan KB tidak menjadi prioritas pembangunan di daerah, terutama daerah dengan jumlah penduduk masih jarang atau memilik PAD rendah.
 
Hasil dari melemahnya program progran kB di era otonomi daerah ketika itu bisa terlihat dari sensus penduduk tahun 2010. "Jumlah penduduk tahun 2010 mencapai 237,6 juta jiwa, melampaui angka proyeksi yang hanya 234 juta jiwa, ini kurang menggembirakan," kata Sugiri.
 
Menyadari kondisi dan berbagai permasalahan kependudukan, maka revitalisasi program kependudukan dan KB yang telah dicanangkan pemerintah, kata sugiri, adalah suatu hal yang tak bisa ditawar lagi.
 
"Kondisi kependudukan indonesia yang masih memprihantinkan, diiringi dengan perubahan kondisi sosial ekonomi dan politik yang sangat dinamis dewasa ini menjadi dasar pijakan kita dalam melaksanakan revitalisasi program Kependudukan dan kB,"katanya.
 
Sugiri mengatakan, saat ini, persoalan penduduk berpacu dengan waktu. "Tidak mungkin berharap kualitas penduduk akan lebih baik tanpa mengendalikan kuantitasnya," kata Sugiri. (tri)
(amr)