(Oke Zone) BATAM - Program sosialisasi Keluarga Berencana (KB) dinilai belum maksimal. Hal itu tak terlepas dari peran penyuluh KB di lapangan yang terus berkurang.
"Di Jawa Tengah, tahun 2000-an jumlah penyuluh KB mencapai 6.000 orang, tapi pada 2010 jumlahnya hanya sekira 2.577," kata Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Bambang Sadono di acara Rakernas Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) di Batam, Kepulauan Riau, Jumat (9/12/2011).
Bambang mengatakan, menyusutnya jumlah penyuluh KB tersebut tidak terlepas dari karut marutnya kelembagaan yang mengurus program KB. Untuk provinsi Jawa Tengah, kata Bambang, hanya satu kabupaten/kota yang benar-benar memiliki Badan Keluarga Berencana.
"Sedangkan lainnya, KB masuk ke dalam badan pemberdayaan perempuan dan KB, bahkan ada yang masuk ke dalam Badan Ketahanan Pangan, inilah yang namanya kerusakan jaringan," katanya.
Bambang yang juga ketua IPKB menambahkan, secara keseluruhan, dari 497 kabupaten, baru 385 kabupaten yang mengurus KB. Kerusakan jaringan institusi yang mengurus KB itu membuat SDM yang sebelumnya banyak menjadi berkurang.
"Bayangkan orang yang dulunya menjadi penyuluh KB tentunya sekarang telah menduduki posisi, dan takkan mau kembali lagi mengurus KB, sementara untuk perekrutan baru jumlah lowongan tentunya sedikit," katanya.
Bambang mengatakan, dari segi anggaran, program KB pun terbilang sangat kecil untuk daerah. "Ada kabupaten yang anggaran untuk KB-nya di bawah Rp200 juta per tahun, ini kan sangat mengagetkan," katanya.
Sebab itu, kata Bambang, di provinsi Jawa tengah pada tahun 2012, akan segera dibentuk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Daerah untuk meningkatkan upaya pelaksanaan program KB.
(ful)