Navigate Up
Sign In
BKKBN > Berita > PKBR Perlu Penanganan Serius
 PKBR Perlu Penanganan Serius
Thursday, December 8, 2011
JAKARTA -- Remaja merupakan target grup yang paling strategis dari program kependudukan dan keluarga berencana (KKB). Karena untuk berkeluarga memang harus dipersiapkan sejak dini, dalam hal ini bisa dimuai saat masih remaja.
 
“Menurut saya karena itu ibu-ibu dan bapak-bapak tetap menjalankan program KB dengan menjadi akseptor. Tetapi juga ke depan kelompok remaja harus menjadi perhatian serius,”  kata Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKK NU) Dr H Arief Mudatsir Mandan.
 
Berkaitan dengan Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR), ini ini menjadi sangat penting dan harus ditangani sungguh-sungguh oleh pemerintah.
 
Seberapa penting mereka mempersiapkan mentalnya sebelum memasuki jenjang pernikahan dan berkeluarga, bagi Ketua LKK NU, remaja putra maupun putri merupakan generasi muda yang memilikin tanggung jawab di masa mendatang. Sukses tidaknya pembangunan nasional ke depan, termasuk KKB, itu ditentukan oleh sikap dari remaja sekarang ini, yakni apa yang dilakukan sekarang ini oleh mereka.
 
Penyuluhan terhadap para remaja mengenai pentingnya mereka sebagai calon ayah dan ibu yang mesti harus bertanggung jawab atas keturunannya perlu terus digelorakan. Bertanggung jawab terhadap keturunnnya dalam hal ini adalah keluarga yang sejahtera dan yang maslahah, sakinah, wamadah, warohmah.
 
Salah satu indikasi dari keluarga yang sakinah, wamadah dan warohmah adalah bahwa mereka nantinya bisa mengatur jumlah keturunnnya, dua anak cukup. Kemudian bagaimana meningkatkan kualitas kehidupan keluarganya, baik ayah dan ibu ataupun anak-anak dan keturunan berikutnya.
 
“Menurut saya keluarga kecil itu merupakan keluarga yang kondusif untuk meningkatkan kualitasnya. Artinya ekonominya cukup, sehingga dia bekerja dengan giat guna menopang keluarga kecil dan berkualitas tersebut. Kalau ekonomi kuat, pendidikan anaknya menjadi lebih terjamin. Juga kesehatannya. Papan dan pangan akan lebih terjamin,” katanya.
 
“Bila hal ini dipersiapkan sejak dini maka program KKB juga harus bisa menghubah cara berpikir anak-anak remaja untuk keluarga sejahtera tersebut. Cara beripikir harus diubah terlebih dulu untuk mengerti dan memahami keluarga yang baik itu seperti apa,” katanya.
 
“Bagaimana kemudian bisa dikatakan bila keluarga itu sejahtera. Untuk ke komunitas lebih besar lagi masyarakat juga akan sejahtera, sehingga bermuara pada negara dan bangsa sejahtera. Cara berpikir demikian harus ditanamkan sejak dini,” demikian Arief Mudatsir Mandan.
 
“Hal ini sangat strategis. Saya yakin bila ini tidak dilakukan scara seius sejak dini, sensus yang akan datang akan menghasilkan jumlah penduduk Indonesia yang membengkak dengan segala efek sosialnya,” tuturnya lagi.
 
“Lha kepentingan bagaimana kita mengatur kelahiran, kemudian mengatur agar angka kematian ibu melahirkan menjad rendah, itu adalah kepentingan yang kita sama-sama tahu bahwa bumi kita terbatas. Sumber daya alam juga terbatas. Sementara bila penduduk kita biarkan bertambah besar tanpa diatur dan dikendalikan, kapasitas bumi tidak bisa menampung.”
 
“Lho, kita nomor empat terbesar  di dunia setelah Tiongkjok, India dan Amerika. Akhir oktober penduduk dunia mencapai tujuh miliar, sementara di kita sudah 240 juta. Sumber daya alam kita kian berkurang, sementara yang masih tersisa harus dilola lebih baik,” demikian Arief. (H)