JAKARTA -- Psikolog Seksual Zoya Amirin menyatakan, melihat fakta dan data saat ini, sudah tidak bisa lagi menganggap seks adalah hal yang tabu untuk dibahas di lingkungan keluarga sekalipun.
"Alangkah baiknya bila pendidikan seks yang tepat dilakukan sedini mungkin untuk mencegah remaja dan kaum muda ini mendapatkan informasi yang salah," katanya di jakarta, Senin.
Orang tua merupakan sumber utama anak seharusnya mendapatkan pendidikan seksual, bukannya menghindar dari topik yang sensitif tersebut, karena ternyata hasil survei juga menunjukkan bahwa remaja membahas kegiatan seksualnya dengan teman sebesar 93 persen, disusul dengan membahas dengan pacar (21 persen) baru dengan ibu (10 persen) dan ayah (2 persen).
Mendesak
Sementara itu ginekolog Prof Dr dr Biran Affandi SpOG (K) FAMM, menyatakan pengetahuan dini tentang seks penting bagi remaja. Pengetahuan ini menurutnya dibutuhkan supaya remaja tidak salah kaprah dalam memahami seks.
"Namun pengetahuan ini hendaknya tidak menjadi alasan untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah," ujarnya.
Tujuan diberikannya pengetahuan itu, adalah supaya mereka tahu bagaimana cara melindungi diri sendiri.
"Setiap negara punya kebudayaan berbeda. Akan lebih baik jika remaja tahu sejak dini," katanya.
Karena pengetahuan ini akan terus mereka bawa sampai mereka dewasa, bahkan sampai mereka menikah dan memutuskan punya anak.
Sebelumnya, mengutip sebuah survei, dia menyatakan enam puluh persen remaja perkotaan pernah berhubungan suami istri. Sedangkan untuk remaja pedesaan, jumlahnya diperkirakan sekitar empat puluh persen.
Hal ini didasarkan pada survei yang dilakukan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN, sekarang Badan kependudukan dan jeluarga Berencana Nasional). (H)