Depan > Index Sekapur Sirih > FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA MENDORONG KESERTAAN KB PRIA
FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA MENDORONG KESERTAAN KB PRIA
Rabu, 10 Oktober 2012
​Prinsip pokok dalam mewujudkan keberhasilan Program KB era baru adalah memaksimalkan akses dan kualitas pelayanan KB serta Kesehatan Reproduksi, termasuk akses dan pelayanan KB Pria. Sampai saat ini partisipasi pria dalam ber KB masih rendah, terlihat dalam hasil Laporan Statistik Rutin Pencatatan dan Pelaporan BKKBN sampai dengan bulan Agustus pencapaian peserta KB Pria masih berkisar 7,8%, yang terdiri dari peserta Kondom 7,5% dan Vasektomi 0,3%. Salah satu faktor penyebab masih rendahnya partisipasi pria dalam KB dan kesehatan reproduksi adalah karena informasi tentang manfaat KB pria belum banyak dipahami oleh masyarakat secara utuh, serta masih adanya pandangan bahwa KB merupakan urusan wanita saja dan stigma tentang libido. Berbagai upaya peningkatan partisipasi pria dalam ber KB dilakukan melalui peningkatan akses pria terhadap  informasi, pendidikan, konseling dan pelayanan KB. Partisipasi pria dalam ber KB  dan kesehatan reproduksi  merupakan kepentingan  dan tanggung jawab bersama antara suami dan isteri yang harus difasilitasi oleh pemerintah maupun swasta, organisasi profesi,tokoh agama dan masyarakat dan lain sebagainya.
 
Sampai saat ini partisipasi pria dalam KB dan kesehatan reproduksi baik secara langsung maupun tidak langsung perlu ditingkatkan, mengingat bahwa pria merupakan pasangan/partner dalam proses reproduksi, bertanggung jawab secara sosial, moral dan ekonomi dalam membangun keluarga, serta mempunyai hak reproduksi yang sama dengan wanita, sama-sama mempunyai akses terhadap informasi dan pelayanan KB, mempunyai kesempatan yang sama untuk berperan sebagai peserta KB, dan mempunyai posisi yang sama dan setara dalam pengambilan keputusan mengenai KB.
 
Pada bulan Juni tahun 2012 di Bogor dan di Cipasung Tasikmalaya disampaikan bahwa hasil pertemuan Ikatan Ahli Urologi Indonesia yang dihadiri oleh para ahli urologi yang biasa melaksanakan tindakan Vasektomi dan Rekanalisasi serta Prof. Utang Ranuwidjaya yang mewakili MUI Pusat menghasilkan pernyataan bahwa Vasektomi adalah tindakan memotong dan mengikat saluran sperma ( Vas deferens) dengan tujuan menghentikan aliran spermatozoa, sehingga air mani tidak mengandung spermatozoa pada saat ejakulasi tanpa mengurangi volume air mani. Vasektomi tidak mempengaruhi libido (Gairah Seksual), kemampuan ereksi, ejakulasi dan orgasme. Untuk rekanalisasipun dilakukan oleh tenaga ahli urologi dan dijamin dapat memperbaiki fungsi reproduksi seperti sebelum dilakukan tindakan Vasektomi.
 
Dari  hasil pertemuan dengan Ahli Urologi Indonesia dan Fatwa MUI  tersebut menjadi dukungan yang kuat dan sangat besar untuk meningkatkan kesertaan KB Pria. Salah satu komitmen dari pertemuan tersebut adalah dengan memberikan fatwa memperbolehkan Vasektomi dengan syarat  untuk tujuan yang tidak menyalahi syari’at,  tidak menimbulkan kemandulan permanen, ada jaminan dapat dilakukan rekanalisasi yang dapat mengembalikan fungsi reproduksi seperti semula , tidak menimbulkan bahaya (mudharat) bagi yang bersangkutan. Fatwa ini sangat menggembirakan. Dengan adanya fatwa MUI tersebut, pengguna metode kontrasepsi vasektomi bagi kaum pria sudah tak perlu ragu-ragu lagi.