Depan > Index Berita > Meskipun Sulit, Namun KB Pria di Sumsel Semakin Meningkat
Meskipun Sulit, Namun KB Pria di Sumsel Semakin Meningkat
Rabu, 28 Agustus 2013

​JAKARTA, bkkbn online
    Kontrasepsi khusus pria yaitu vasektomi (metode operasi pria/MOP) masih dianggap oleh sebagaian masyarakat sebagai pengebirian. Hal ini, menurut seorang Motivator Vasektomi Sumatera Selatan, Letkol Inf Debok Sumantokoh disebabkan karena kurangnya informasi yang tepat, sehingga menimbulkan salah paham.
    Letkol Inf Debok mengatakan, untuk mengajak kaum pria ber-KB bukan pekerjaan mudah karena paradigma masyarakat masih tertanam yang ber-KB hanyalah perempuan. “Biasanya pria yang mau ber-KB karena sayang istri dan kasihan pada istri yang menggunakan pil atau suntik dalam jangka waktu lama, khawatir ada efek samping pada kesehatannya,” ujarnya, kemarin.
    Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumsel Sri Rahayu mengatakan, minat kaum pria di wilayah kerjanya, setiap tahun mengalami peningkatan, berkat sosialisasi yang gencar oleh para mitranya. “Peningkatannya tidak banyak tetapi selama tiga tahun terakhir selalu mencapai target,” kata Rahayu saat berada di Jakarta, belum lama ini.
    Di Kota Palembang misalnya, tahun 2013 ditargetkan sebanyak 575 pria menjadi akseptor KB, realiasinya mencapai 600 akseptor. Tahun 2013 semester pertama telah merealisasikan 21,2 persen dari target yang ditetapkan oleh Perwakilan BKKBN Provinsi Sumsel.
    Perwakilan BKKBN Provinsi Sumsel saat ini TFR-nya mencapai 2,8, artinya, dari 10 orang wanita usia subur terdapat 28 anak yang dilahirkan (menurut SDKI 2012). “Kami terus bekerjakeras menurunkan TFR bersama-sama para mitra dan dukungan dari pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan kesadaran masyarakat untuk memiliki komitmen membentuk keluarga kecil yang bahagia sejahtera,” ujarnya.
    Di Sumsel, pemakaian kontrasepsi masih didominasi oleh kontrasepsi jenis suntikan. Jadi, meskipun keikutsertaan ber-KB di atas rata-rata nasional (54 persen) yaitu mencapai 64 persen, namun pihaknya harus bekerja keras untuk mengarahkan penggunaan kontrasepsi jangka panjang, yakni IUD, implant, MOP, dan MOW.(kkb2)