Depan > Index Artikel > DEDIKASI, KOMITMEN DAN KEJUJURAN PENTING DALAM UPAYA MENCAPAI TUJUAN
DEDIKASI, KOMITMEN DAN KEJUJURAN PENTING DALAM UPAYA MENCAPAI TUJUAN
Senin, 1 April 2013  |  BKKBN

​Total Fertility Rate atau lebih dkenal dengan TFR, dari hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukkan kondisi yang stagnan yaitu 2,6  padahal tahun 2014 TFR tersebut diharapkan telah  menjadi 2,1.Untuk mencapai TFR seperti yang diharapkan tersebut, yang paling utama harus dilakukan tentu dengan meningkatkan  angka pemakaian kontrasepsi (CPR), atau meningkatkan  jumlah pengguna alat kontrasepsi. Saat ini CPR yang tercapai sebesar 57 %, dan yang diharapkan pada  tahun 2014  CPR tersebut dapat mencapai 65 %. Ini tentu menjadi tantangan yang sangat signifikan bagi penerima amanat untuk mengelola program yang berhubungan dengan kependudukan dan keluarga berencana yaitu Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Hasil survey ini tentu tidak dapat diabaikan, karena data dan informasinya langsung didapat dari masyarakat, dan bukan dari  data statistic yang dilaporkan, maka hasilnya jelas  dapat menggambarkan  kondisi nyata tentang kesertaan ber KB yang ada di masyarakat.

BKKBN selaku pengelola program kependudukan dan keluarga berencana tentu telah menyikapi kondisi tersebut, ini ditandai dengan telah disusunnya berbagai strategi dan kebijakan, baik itu dalam betuk Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2013. maupun dalam bentuk Nota Kesepahaman Bersama (MoU) dengan berbagai lembaga formal maupun non formal yang dapat mendukung keberhasilan program Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana.
  
Strategi penyelenggaraan program KKB  yang disusun juga sangat komprehensip, bukan hanya sekedar strtegi kebijakan untuk pembinaan dan peningkatan kesertaan ber KB saja ,  tetapi  juga mencakup pada strategi  mengembangkan dan melaksanakan sosialisasi kebijakan pengendalian penduduk, dan juga  strategi  yang mengarah pada peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga. Selain itu tentu masih banyak lagi  strategi yang lainnya baik itu berhubungan, dengan system, dengan sumber dana maupun dengan sumber daya  manusia. Namun demikian jika dihubungkan dengan upaya penurunan TFR, maka dari berbagai strategi penyelenggaraan program KKB  yang disusun ini tentu inti pokok  tujuannya adalah bagaimana CPR itu dapat meningkat, karena dengan peningkatan CPR maka TFR pun tentu akan semakin mengecil.
 
Sebetulnya bila dilihat dari  pencapaian hasil program khususnya peserta KB baru ,  pada setiap tahunnya  terlihat selalu lebih dari yang ditargetkan, apalagi bahwa pencapaian tersebut juga termasuk pengguna alat kontrasepsi jangka panjang.ini  semestinya merupakan kontribusi untuk   menambah jumlah peserta KB aktif yang merupakan inti dasar untuk peningkatan CPR.
 
Berdasarkan isu strategis yang telah diidentifikasi yang menyebabkan  TFR dan CPR dalam kondisi stagnan itu terjadi karena  meningkatnya angka kesuburan pada usia remaja, meningkatnya jumlah pasangan usia subur (PUS) muda dan juga ada indikasi  jumlah anak ideal yang ingin dimiliki belum sesuai dengan target TFR, dan  juga  lemahnya komitmen pemerintah kabupaten dan kota terhadap pengelolaan program KKB di lapangan, selain itu juga  perlunya perhatian yang serius dalam pembinaan program KKB di lapangan, karena upaya keras untuk mendapatkan peserta KB baru tersebut tampaknya belum diimbangi dengan upaya pembiayaannya ( sumber; BKKBN, Rakernas Pembangunan Kependudukan Dan KB Tahun 2013 , Jakarta 2013).
 
Isu strategis tersebut tentu benar adanya, tetapi mungkin tidak ada salahnya apabila difikirkan juga tentang asumsi atau  kemungkinan  lain yang mungkin juga menjadi penyebab mengapa TFR dan CPR dalam kondisi stagnag tersebut.

Asumsi atau kemungkinan lain yang mungkin juga dapat menjadi bahan  pertimbangan khususnya  dalam pencapain  CPR , salah satunya adalah tentang  dedikasi, komitmen  dan kejujuran petugas dan pengelola program  dalam penggarapan maupun dalam melaporan hasil program, dikawatirkan bila  dedikasi, komitmen dan kejujuran petugas tersebut tidak ada , maka  beberapa kemungkinan yang dapat  muncul adalah:

1.    Tentang kebenaran pencapaian peserta KB baru khususnya pengguna metode jangka panjang, yang kemungkinan  dapat terjadi bahwa peserta tersebut sebetulnya adalah ganti cara dari pengguna  alat kontrasepsi jangka pendek khususnya dari pengguna kontrasepsi  pil dan kondom.
2.    Kebenaran pelaporan atas hasil program, yang mungkin terjadi  karena kurangnya kompetensi dan kualitas SDM pelapor, tetapi kemungkinan juga dapat terjadi karena pentingnya pencapaian target pada periode-periode yang telah ditetapkan.
3.    Dengan tidak tepatnya menentukan kondisi peserta KB dan kualitas serta kevalidan data, maka selanjutnya tentu akan  berdampak   pada penyusunan strategi dan kebijakan program dan operasional.

Bila asumsi dan kemungkinan ini benar , maka jumlah kesertaan ber KB seperti yang dilaporkan itu tidak akan sama dengan  jumlah kesertaan ber KB  yang ada di masyarakat.  karena pertambahan peserta KB baru yang terlapor itu tidak seluruhnya berkonstribusi terhadap  penambahan peserta KB aktif,   dan kondisi  ini tentu akan berpengaruh pada besarnya CPR yang merupakan kunci dasar untuk penentuan TFR.

Asumsi dan kemungkinan yang seperti ini memang sangat tidak nyaman untuk di terima dan di perbincangkan, namun demikian ini mungkin dapat menjadi sebuah catatan bahwa “ kunci utama”  untuk mencapai tujuan seperti yang diharapkan adalah dengan  keberanian dan kejujuran untuk menerima kondisi dan kebenaran. ( Art, S )