Depan > Index Artikel > SOEWARDJONO SURJANINGRAT PEJUANG KELUARGA BERENCANA
SOEWARDJONO SURJANINGRAT PEJUANG KELUARGA BERENCANA
Selasa, 28 Agustus 2012  |  BKKBN
​Manusia datang ke dunia atas kehendak Allah dan kembali ke alam baqa karena panggilan Allah. Bangsa Indonesia kehilangan putra terbaiknya Bapak Dr. dr. H. Soewardjono Surjaningrat, SpOG (K), berpulang ke Rahmatullah Selasa 21 Agustus 2012 (3 Syawal 1433 H), pukul 18:53 WIB di Rumah Sakit Puri Cinere dalam usia 89 tahun.  Soewardjono Surjaningrat adalah Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pertama dan Menteri Kesehatan RI Kabinet Pembangunan III dan IV (1978-1988).
 
“Selamat jalan Dokter Suwardjono, terima kasih untuk segala-galanya.”, demikian diucapkan dengan nada suara berat oleh Menteri Kesehatan RI dr. Nafsiah Mboi ketika menutup sambutan selaku inspektur upacara pemakaman jenazah almarhum Dr. Soewardjono Surjaningrat di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta, Rabu 22 Agustus 2012. Soewardjono Surjaningrat yang menyandang pangkat kemiliteran Mayor Jenderal TNI (Purn) dimakamkan bersebelahan dengan Letnan Jenderal TNI (Purn) M. Kharis Suhud (mantan Ketua MPR/DPR-RI periode 1987-1992) yang wafat sehari sebelumnya. Pentakziah yang hadir di pemakaman, terlihat mantan Presiden RI Bacharuddin Jusuf Habibie, mantan Menko Kesra dan mantan Menteri Kependudukan/Kepala BKKBN Haryono Suyono, keluarga besar BKKBN dan Kementerian Kesehatan, termasuk sekretaris almarhum di kantor BKKBN tahun 1970 yakni Ibu Rini. Upacara serah terima jenazah almarhum kepada negara dan Tentara Nasional Indonesia di rumah duka dihadiri antara lain oleh Kepala BKKBN Dr. Sugiri Syarief, MPA.    
 
Pria kelahiran Purwodadi, Jawa Tengah 3 Mei 1923 itu menempuh pendidikan kedokteran pada IKA Daigaku (Fakultas Kedokteran zaman pendudukan Jepang) tahun 1943-1945, FKUI (setelah kemerdekaan) serta pendidikan tambahan dalam bidang kedokteran, family planning and population studies di Amerika Serikat.
 
Di masa revolusi kemerdekaan 1945, Soewardjono bergabung sebagai relawan di Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang menjadi cikal bakal TNI. Bertugas sebagai dokter di Rumah Sakit Tentara hingga menjabat Kepala Lembaga Keluarga Berencana ABRI. Sejak 22 Januari 1970 diberi kepercayaan oleh Presiden Soeharto untuk menjabat Kepala BKKBN yang pertama. Dokter ahli kandungan ini diserahi tanggung jawab memperkenalkan program KB di Indonesia. Sewaktu menjadi Menteri Kesehatan Kabinet Pembangunan III dan IV (1978-1988), Soewardjono merangkap sebagai Kepala BKKBN sampai 1983. Tugas Soewardjono selama 13 tahun memimpin BKKBN dilanjutkan oleh Dr. Haryono Suyono, Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN.
 
Sebagai Kepala BKKBN, Soewardjono Surjaningrat didampingi dua  Deputi Ketua, yaitu H.S.M.Nasaruddin Latif, seorang ulama, pejabat tinggi Kementerian Agama dan sebelumnya menjabat Ketua Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN), sebagai Deputi I Bidang Umum, dan Prof. H.Marsidi Joedono, seorang ahli di bidang kedokteran dari Kementerian Kesehatan, sebagai Deputi II Bidang Medis. Kini ketiga tokoh pejuang Keluarga Berencana itu telah meninggalkan kita semua. Semoga Allah SWT memberi tempat yang mulia disisi-Nya.
 
Sebelum program KB dilaksanakan, pemerintah telah mengantisipasi dan memperhitungkan dukungan masyarakat, khususnya kelompok agama. Dalam rangka pengumpulan pendapat ulama tentang Keluarga Berencana, orangtua saya almarhum HSM Nasaruddin Latif selaku Deputi Kepala BKKBN yang membidangi kegiatan motivasi, pendidikan, latihan, penelitian dan penilaian, melakukan pendekatan personal menemui tokoh-tokoh ulama terkemuka di seluruh Indonesia dan mengikuti sejumlah pertemuan atau konferensi internasional tentang Family Planning. Dalam buku H.S.M. Nasaruddin Latif Biografi dan Pemikiran (1996), Soewardjono Surjaningrat menceritakan, “Sebagai Kepala BKKBN yang pertama, saya mengetahui dan mengalami masa di mana fatwa dan peran ulama menjadi faktor yang menentukan diterima tidaknya program Keluarga Berencana oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.”
 
Sejarah mencatat sebelum BKKBN lahir, sudah berdiri Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dan Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) yang merupakan perintis keluarga berencana di Indonesia. Pada awal pelaksanaan program KB, tidak serta merta berjalan lancar. Berbagai hambatan menghadang, di antaranya yang paling dominan berkaitan dengan pandangan dan keyakinan agama masyarakat. Sekiranya BKKBN di bawah kepemimpinan Soewardjono Surjaningrat tidak melibatkan para ulama dan tidak merangkul organisasi-organisasi Islam, program KB tidak akan berjalan lancar.
 
BKKBN melibatkan Muhammadiyah yang mendukung program KB melalui pelayanan kesehatan di klinik-klinik PKU yang dimiliki Muhammadiyah, melibatkan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), Muslimat NU, dan organisasi lainnya. Muhammadiyah dan NU mendukung program KB melalui fatwa yang dikeluarkan ormas Islam terbesar tersebut. Sedangkan di kalangan pemuka agama lain membutuhkan waktu untuk bisa mendukung secara total program KB.
 
Sejalan dengan itu Deputi Kepala BKKBN HSM Nasaruddin Latif menyampaikan dari sudut pandang syariat Islam bahwa Keluarga Berencana bukan berencana untuk tidak mempunyai anak. Keluarga Berencana adalah ikhtiar manusiawi untuk mengatur rencana kelahiran anak disebabkan satu dan lain keadaan yang menyebabkan suami dan istri harus bertindak demikian, mengingat tanggung jawabnya terhadap pemeliharaan kesehatan ibu dan anak-anak yang harus dipelihara lahiriah dan batiniahnya, secara tidak melawan hukum agama, moral dan undang-undang negara. Dengan jumlah anak yang sedikit diharapkan pembinaan jasmani dan ruhani dapat dilaksanakan dengan baik. Ibu yang tidak sering melahirkan keadaan kesehatannya akan lebih baik. 
 
Program KB yang dipimpin Soewardjono berhasil mendapatkan dukungan lembaga-lembaga donor internasional. Bahkan kemudian Konferensi Tingkat Tinggi VI OKI (Organisasi Konferensi Islam) di Dakar, Senegal tahun 1991 sangat menghargai Gerakan KB yang dilaksanakan Indonesia. Kerja keras dan “tangan dingin” Soewardjono beserta jajaran BKKBN, termasuk peran para petugas lapangan KB pada masa awal berhasil mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk dalam usaha membina keluarga sejahtera.
 
Dalam biografi Dr. dr. Soewardjono Surjaningrat, SpOG Mengabdi Tugas Kemanusiaan (2008), bangsawan dengan gelar KPH (Kanjeng Pangeran Haryo) yang santun itu menuturkan, “Saya melakukan pendekatan kemanusiaan. Kalau kita mengatakan program Keluarga Berencana dikaitkan dengan kebijakan kependudukan, belum tentu diterima. Saya datang dengan misi kemanusiaan, bukannya menekan bahwa kalau menentang keluarga berencana berarti anti pembangunan. Bukan. Kalau ini alasannya, ya berantakan semua.” ujarnya.
 
Beberapa tahun sebelum wafat Soewardjono mengutarakan, di era otonomi daerah sekarang ini tugas BKKBN semakin berat karena rnasih banyak pemimpin daerah yang tidak memahami soal kependudukan. Padahal itu penting sekali, bagaimana mau sejahtera kalau menyekolahkan anak saja susah. Sudah anaknya banyak, kondisi ekonomi keluarga tidak mendukung. Namun ia tetap optimis program KB tidak akan tenggelam. Menurut almarhum, sebagian masyarakat tidak perlu dikejar-kejar lagi untuk ber-KB karena telah menyadari kondisi perekonomian yang semakin sulit. Untuk mendapatkan pekerjaan dan menyekolahkan anak juga semakin sulit, ungkapnya.
 
Salah satu jasa Soewardjono Surjaningrat sebagai Menteri Kesehatan yang monumental ialah pembangunan Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) dan penempatan dokter-dokter muda di Puskesmas sampai ke desa-desa seluruh Indonesia. Semasa Menteri Kesehatan Soewardjono, pertama kali disusun Sistem Kesehatan Nasional. Saat memberikan penghargaan kepada Dokter Puskesmas Teladan Tingkat Nasional Tahun 1982 beliau berpesan, "Saya berikan fulpen ini dengan harapan agar saudara-saudara menggunakannya sebagai alat menulis untuk terus meningkatkan ilmu pengetahuan, kalau bisa menjadi Doktor."
 
Selesai menjabat Menteri Kesehatan, Soewardjono mempertahankan profesi luhur sebagai dokter yang buka praktek. Suatu tugas kemanusiaan dan panggilan hidup yang memberi manfaat bagi orang banyak.
 

Semoga pengabdian dan karya almarhum diterima Allah SWT sebagai amal shaleh dan diampuni segala dosanya.
Selamat Jalan Bapak Soewardjono Surjaningrat!

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

 
Oleh M. Fuad Nasar, M.Sc

Penulis saat ini menjabat Wakil Sekretaris Badan Amil Zakat Nasional.